Custom Search

Rabu, 03 Februari 2016

one piece


Luffy vs Doflamingo. GEAR 4 (FOURTH) INCOMING!! One Piece episode 725 [HD] Eng Sub

 

Luffy vs Doflamingo. GEAR 4 (FOURTH) KONG GUN! One Piece 726 [HD] Eng Sub

 

 

Kamis, 28 Januari 2016

biologi perikanan



I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Biologi Perikanan adalah studi mengenai ikan sebagai sumberdaya yang dapat dipanen oleh manusia. Kadang pengertian istilah Biologi ikan ditujukan kepada pengertian fisiologi, reproduksi, pertumbuhan, kebiasaan makanan, tingkah laku, dan sebagainya. Usaha mengembangkan dan memajukan perikanan, pengetahuan mengenai habitat, penyebaran dan aspek biologi dari ikan menjadi dasar utama dalam usaha ini, dimana kematangan gonad sangat berhubungan dengan pemijahan. Tak terkecuali dengan fekunditas yang juga memegang peranan penting dalam penentuan kelangsungan populasi dan dinamika kehidupan. Hubungan panjang berat akan bermanfaat dalam menentukan nilai faktor kondisi dan sifat pertumbuhan ikan.
Ikan sebagai salah satu sumber daya laut mempunyai peranan yang sangat  penting bagi  kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan pangan dan menjadi komoditi perdagangan. Dalam pemanfaatannya dilakukan dengan dua cara yaitu kegiatan penangkapan dan kegiatan budidaya. Kegiatan penangkapan berlebih (Over fishing) dapat menyebabkan menurunnya stok ikan sehingga perlu adanya upaya untuk tetap memelihara stok sumber daya ikan (konservasi, menjaga kualitas habitat, budidaya, pemahaman terhadap aspek biologi).
Barakuda adalah ikan dalam kelas Actinopterygii yang dikenal berwujud menyeramkan dan berukuran tubuh besar, yaitu sampai panjang enam kaki dan lebar satu kaki. Tubuhnya panjang dan ditutupi oleh sisik yang halus. Ikan ini dapat ditemukan di samudra tropis dan subtropis di seluruh dunia. Barakuda adalah anggota genus Sphyraena, satu-satunya genus dalam familia Sphyraenidae.
Dalam praktikum biologi perikanan ini, ada beberapa hal yang perlu diketahui dari ikan barakuda yaitu meliputi hubungan panjang berat, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematngan gonad (IKG), fekunditas, faktor kondisi dan kebiasaan makanan. Selain itu panjang mempunyai hubungan dengan berat tubuh ikan panjang juga mempunyai hubungan dengan fekunditas. Fekunditas merupakan semua telur-telur yang dikeluarkan pada waktu ikan melakukan pemijahan. Dengan mengetahui fekunditas dapat ditaksir jumlah anak yang dihasilkan dan juga dapat ditentukan jumlah ikan dalam kelas umur tertentu.
B . Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan dari praktikum biologi perikanan ini adalah untuk mengetahui hubungan panjang dan berat, Fekunditas, Tahap kematangan gonat (TKG), Indeks kematangan gonat (IKG) ,  Kebiasaan makan dan cara makan pada ikan barakuda (Sphyraena barracuda ).
Kegunaan dari praktikum ini adalah agar para praktikan memperoleh informasi dasar mengenai ikan barakuda (Sphyraena barracuda ) mulai dari klasifikasi dan morfologi ikan ini hingga kebiasaan makannya.





II. TINJAUAN PUSTAKA
A.   Klasifikasi Dan Morfologi Ikan barakuda (Sphyraena barracuda )
Menurut (Cuvier, 1892), menyatakan bahwa taksonomi ikan barakuda adalah sebagai berikut :
Kerajaan         : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Actinopterygii
Ordo                : Perciformes
Famili              : Sphyraenidae
Genus              : Sphyraena
Spesies             : Sphyraena baraccuda
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihIUn3mHJX9JlQKRoU3yy3ofmGDg9xDeVXZ7NC1XcFyzEYUEowtnn3YNafb_6UOQXVt38ogevWlmVy72v7Wzft_jMojt8yQwrKWze-xdh8onhL9dVJ10176YSMCQJIJsFLCuaQFRZMqSYF/s1600/ikan+barakuda.jpg
Gambar 1. Ikan barakuda (Sphyraena barracuda )


Ikan barakuda dikenal berwujud menyeramkan dengan tubuh berukuran besar memanjang dan ditutupi oleh sisik-sisik yang halus, yaitu dengan panjang bisa mencapai enam kaki dan lebar satu kaki. Ikan barakuda besar memiliki rahang yang kuat dengan didukung oleh sederetan gigi-gigi yang panjang meruncing dan tajam, yang sanggup memutuskan jari-jari manusia pada saat menangkap dan memegangnya. Sirip punggung pertama memiliki 5 duri, dan yang kedua 10 duri. Terdapat sekitar 75-90 sisik sepanjang garis lateral. Insang ikan barakuda hampir berbentuk bulatan. Rahang lebih pendek dari pada rahang bawah. Seekor ikan Barakuda besar dewasa memiliki bercak hitam yang tidak beraturan pada sisi bawah perutnya, terutama yang didekat ekor  (Suryanto, 2013).
Warna punggung ikan barakuda abu-abu kebiruan, warna badan bagian bawah keperak-perakan, terdapat 18-23 ban-ban yang membentuk sudut melintang badan melalui garis rusuk. Kedua sirip punggungnya biru kehitaman dan pada ujung sirip dubur warnanya agak gelap. Warna sirip-siripnya kuning ke abu-abuan, pada bagian ujung dari sirip punggung kedua, dubur, dan ekor, berwarna putih           (Purnomowati dkk, 2008).  
Barakuda adalah ikan memanjang, pike -seperti dalam penampilan, dengan menonjol tajam , taring -seperti gigi, mirip piranha, yang semuanya berbeda ukuran yang ditetapkan dalam soket rahang besar mereka. Mereka memiliki kepala besar dengan menunjuk gigitan bawah dalam banyak spesies. Insang mereka meliputi tidak memiliki duri dan ditutup dengan kecil sisik. Dua mereka sirip punggung secara luas dipisahkan dengan sirip anterior memiliki lima duri, sirip posterior memiliki satu tulang belakang dan sembilan sinar lembut. Sirip punggung posterior mirip dengan ukuran sirip anal dan terletak di atasnya. Para garis lateral menonjol dan memanjang lurus dari kepala hingga ekor. Sirip punggung spinosus ditempatkan di atas sirip pelvis dan biasanya ditarik kembali dalam alur. Para sirip ekor bercabang ini cukup dengan posteriornya bermata dua-melengkung dan ditetapkan pada akhir kokoh gagang bunga . Para sirip dada rendah ditempatkan di sisi. Mereka kandung kemih berenang adalah besar.
Dalam kebanyakan kasus, mereka adalah hijau tua, biru tua, atau abu-abu pada tubuh bagian atas mereka dengan sisi keperakan dan berkapur putih perut. Warna bervariasi antar spesies. Untuk beberapa spesies, ada bintik-bintik hitam yang tidak teratur atau deretan gelap lintas-bar di setiap sisi. Sirip mereka mungkin kekuningan atau kehitaman. Barakuda tinggal terutama di lautan, tetapi spesies tertentu seperti Barracuda Besar hidup di air payau.
Beberapa spesies tumbuh cukup besar, seperti barakuda Eropa, barracouta atau SPET (S. sphyraena), ditemukan di Laut Mediterania dan timur Atlantik , sedangkan barakuda Besar , picuda atau becuna (S. picuda), mulai di pantai Atlantik tropis Amerika dari North Carolina ke Brasil dan mencapai Bermuda . Lain barakuda spesies yang ditemukan di seluruh dunia. Contohnya adalah California Barracuda (S. argentea), membentang dari Puget Sound selatan ke Cabo San Lucas , barakuda India (S. jello) dan hitam-bersirip atau commerson yang barakuda (S. commersoni), dari lautan India dan Semenanjung Melayu dan Nusantara .
B.   Habitat Dan Distribusi Ikan barakuda (Sphyraena barracuda )
Ikan barakuda banyak ditemui didaerah perairan dangkal pada selat-selat, semenanjung dan teluk-teluk dipantai, Terdapat dihampir semua lautan tropis dan subtropis kecuali Samudera Pasifik Timur. Penyebarannya banyak ditemukan di lepas pantai dan perairan pantai sekitar karang, dermaga, bangkai kapal tenggelam, Gosong Pasir dan Padang Lamun  (Suryanto, 2013). Beberapa spesies yang cukup besar, seperti barakuda Eropa, barracouta atau SPET (S. sphyraena), ditemukan di Laut Mediterania dan timur Atlantik,  barakuda India (S. jello) dan  commerson barakuda (S. commersoni), terdapat di lautan India dan Semenanjung Melayu dan Nusantara (Rocky, 2012).
Sphyraena barracuda adalah ikan pelagis, ditemukan di terumbu dangkal, di lebih-rak terumbu dalam dan di rak-tepi karang dalam (Feitoza et al. 2005). Ini feed terutama pada sekolah pesisir dan ikan karang (de Sylva 1981), cumi dan udang (Cervigon 1993). Remaja dan individu kecil sekolah dan biasanya ditemukan di atas perairan dangkal lebih berpasir, pantat kurus dan mangrove. Orang dewasa yang lebih besar (> 65 cm panjang standar) biasanya soliter dan menemukan di daerah terumbu karang dan perairan lepas pantai (Kells dan Carpenter 2011).
Spesies ini telah diamati dan mungkin terkait dengan perilaku pemijahan. Spesies ini adalah predator rakus dan biasanya dapat ditemukan di atas struktur dan terumbu. Panjang maksimum untuk spesies ini adalah 200 cm (Robins dan Ray 1986). Maksimum berat diterbitkan adalah 50 kg (De Sylva 1990).
Hal ini dapat mencapai setidaknya 14 tahun. Kebanyakan jantan dari spesies ini matang oleh dua tahun dan semua yang matang oleh tiga tahun. Mayoritas dewasa di tiga tahun dan semua yang matang oleh empat tahun. Barakuda muda akan menghabiskan musim panas pertama mereka di daerah pembibitan dangkal, dan bergerak lepas pantai untuk air yang lebih dalam di akhir musim gugur. Selama musim panas kedua muda. Barakuda akan memasuki habitat mangrove atau tempat tidur gulma lebih dalam. Pada tahun ketiga memasuki habitat karang-karang. Sphyraena barracuda menggunakan padang lamun dan mangrove sebagai biotop lifestage (Nagelkerken et al. 2000).


C. Biologi Reproduksi Ikan
      1. Hubungan Panjang Berat
Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran, baik panjang maupun berat. Pertumbuhan dipengaruhi faktor genetik, hormon, dan lingkungan (zat hara). Ketiga faktor tersebut bekerja saling mempengaruhi, baik dalam arti saling menunjang maupun saaling menghalangi untuk dikendalikan perkembangan ikan (Fujaya, 1999).
Panjang berat merupakan pertambahan panjang dan berat dalam suatu waktu tertentu. Pertumbuhan dalam individu adalah pertumbuhan jaringan akibat pembelahan sel secara mitosis. Hal ini terjadi bila ada kelebihan input energi dan asam amino (protein) dari makanan, sebab bahan dari makanan akan digunakan oleh tubuh untuk melakukan metabolisme dasar, pergerakan, reproduksi, produksi organ seksual, perawatan bagian-bagian tubuh dan sebagainya (Effendie, 2002).
Analisis hubungan panjang berat dari suatu poplasi ikan mempunyai beberapa kegunaan yaitu memprediksi berat suatu jenis ikan dari panjang ikan yang berguna untuk mengetahui biomassa populasi ikan tersebut. Analisis panjang berat yang dihubungkan dengan data kelompok umur dapat digunakan untuk mengetahui komposisi stok, umur saat pertama memijah, siklus kehidupan, kematian, pertumbuhn dan reproduksi (Fafioye dan Olaujuon, 2005).
2.    Tingkat Kematangan Gonad (TKG)
Menurut Effendie (2002), TKG adalah tahap-tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Proses reproduksi, sebelum terjadi pemijahan, sebagai hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad. Gonad akan bertambah besar dengan semakin bertambah besar ukurannya. Ukuran panjang ikan saat pertama kali matang gonad berhubungan dengan pertumbuhan ikan dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya terutama ketersediaan makanan, oleh karena itu ukuran ikan saat pertama kali matang gonad tidak selalu sama.
Perubahan kematangan gonag diperlukan dalam biologi perikanan untuk mengetahui ikan-ikan yang akan melakukan reproduksi dan tidak. Pengetahuan tentang tahap kematangan gonad ini juga akan membantu dalam memperoleh keterangan waktu ikan akan memijah, baru memijah, dan atau sudah memijah. Pengetahuan mengenai ukuran ikan untuk pertama kali gonadnya menjadi masak, ada hubungan dengan pertumbuhan ikan itu sendiri, dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi (Effendie, 2002)
Spesies ikan pertama kali matang gonad pada ukuran yang tidak sama, demikian pula ikan yang sama spesiesnya, jika tersebar pada lintang yang berbeda lebih dari lima derajat, akan mengalami perbedaan ukuran dan umur pertama kali matang gonad. Faktor utama yang mempengaruhi kematangan gonad di daerah bermusim empat antaraa lain adalah suhu dan makanan, tetapi untuk ikan yang berada di daerah tropis suhu perubahanya relative tidak besar umumnya gonad masak lebih cepat (Effendie, 2002).
Tingkat kematangan gonad dapat dipergunakan sebagai penduga status reproduksi ikan, ukuran, dan umur pada saat pertama kali matang gonad, proporsi jumlah stok yang secara produktif matang dengan pemahaman tentang siklus reproduksi bagi suatu populasi atau spesies (Effendie, 2002).
Selanjutnya Effendie (2002), mengemukakan bahwa pengamatan gonad dilakukan dengan dua cara. Pertama, cara histologi dilakukan di laboratorium. Cara kedua, pengamatan morfologi yang dapat dilakukan di laboratorium dan dapat pula dilakukan di lapangan. Hasil pengamatan secara morfologi ini banyak dilakukan para peneliti. Dasar yang dipakani untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan cara morfologi adalah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat.
3.     Indeks Kematangan Gonad (IKG)
Indeks kematangan gonad merupakan perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh yang nilainya dinyatakan dalam persen. Gonad akan semakin bertambah berat dengan semakin bertambahnya ukuran gonad dan diameter telur. Berat gonad akan mencapai maksimum sesaat sebelum ikan memijah, kemudian menurun dengan cepat selama pemijahan berlangsung hingga selesai (Effendie, 2002). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Siregar (2003), yang menyatakan bahwa ikan yang memilki TKG rendah, IKG-nya pun rendah begitupun sebaliknya, ikan yang memiliki TKG tinggi, maka nilai IKG-nya pun tinggi.
            Nilai indeks kematangan gonad dapat digunakan untuk menentukan terjadinya musim pemijahan ikan. Menurut Effendie (2002), indeks kematangan gonad akan semakin meningkat dan akan mencapai batas maksimum pada saat akan terjadi pemijahan. Pada spesies ikan terlihat bahwa semakin tinggi tingkat kematangan gonad, makan nilai indeks kematangan gonad semakin meningkat.
            Dalam proses reproduksi, sebelum terjadi pemijahan sebagian besar hasil metabolisme tertuju pada perkembangan gonad. Semakin bertambah gonad ikan, makan ukuran gonad dan diameter telur juga akan semakin besar. Berat gonad akan maksimum pada saat ikan akan memijah, kemudian berat akan menurun dengan cepat selama pemijahan sedang berlangsung (Effendie, 2002).
Umumnya gonad akan semakin bertambah berat dengan bertambahnya ukuran gonad dan diameter telur. Tingkat kematangan gonad yang sama, indeks kematangan gonad ikan jantan akan berbeda dengan ikan betina. Umumnya kisaran indeks kematangan gonad ikan betina lebih besar dibandingkan indeks kematangan gonad ikan jantan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan ukuran gonad antara ikan jantan dan betina. Biasanyaa ovarium pada ikan betina akan lebih berat daripada testis pada ikan jantan. Berat gonad mencapai maksimum sesaat sebelum ikan akan memijah dan nilai tingkat kematangan gonad akan mencapai maksimum pada kondisi tersebut (Effendie, 2002)
            Selanjutnya, Effendie (2002), juga mengatakan bahwa perubahan-perubahan morfologi di atas dapat dinyatakan dengan tingkat kematangan gonad. Mengetahui perubahan secara kuantitatif adalah dengan indeks kematangan gonad (IKG). Indeks kematangan gonad sering juga disebut dengan “Maturity” atau Gonad Somatic Indeks”.
4.         Fekunditas
Menurut  Effendie (2002), fekunditas adalah jumlah telur yang dikeluarkan ikan pada saat memijah. Secara umum fekunditas meningkat sesuai dengan ukuran berat  tubuh ikan betina. Fekunditas secara tidak langsung dapat dipergunakan untuk memperkirakan banyaknya ikan yang akan dihasilkan. Menghitung jumlah telur dalam gonad ikan biasanya diambil yang tingkat kematangan gonadnya sudah tinggi atau bila dilihat secara visual adalah yang sudah terlihat butiran-butiran telur yang terpisah-terpisah.
Fekunditas pada setiap ukuran panjang dan berat ikan tidak selamanya berbanding lurus dengan ukuran tubuh, dimana ikan yang ukuran tubuhnya kecil memiliki fekunditas yang kecil, sebaliknya ikan yang ukurannya besar memiliki nilai fekunditas yang besar, akan tetapi ada juga ikan yang ukuran tubuhnya besar namun memiliki fekunditas yang kecil. Tinggi rendahnya fekunditas tersebut disebabkan oleh perbedaan berat gonad dan berat kecilnya telur sebagaimana yang dikemukakan oleh Effendie (2000), bahwa ikan yang ukuran telurnya lebih besar memiliki fekunditas yang lebih besar daripada ikan yang ukuran telurnya kecil.
Ikan yang memiliki fekunditas yang besar umumnya memijah di permukaan dan mempunyai kebiasaan tidak menjaga telurnya, sedangkan yang memiliki fekunditas yang kecil memiliki kebiasaan menempelkan telurnya pada substrat dan menjaga telurnya dari pemangsa (Nikolsky, 1969 dalam Miazwir, 2012).
5. Kebiasaan Makan Ikan
Basarnya populasi ikan dalam suatu perairan antara lain ditentukan oleh makanan yang tersedia yaitu jumlah dan juga kualitas, mudahnya tersedia makanan serta lamanya pengambilan (Effendie, 1979).
             Kebiasaan makanan adalah jenis, kuantitas dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara makan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu, tempat dan bagaimana cara ikan memperoleh makanannya. menambahkan bahwa factor-faktor yang menentukan suatu jenis ikan akan memakan suatu jenis oeganisme adalah ukuran makanan, ketersediaan makanan, warna, rasa, tekstur makanan dan selera ikan terhadap makanan. Selanjutnya dikatakan bahwa faktor yang mempengaruhi jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh suatu spesies ikan adalah umur, tempat dan waktu (Effendie, 1997).
            Dalam pengelompokan ikan berdasarkan makanannya, ada ikan sebagai pemakan plankton, pamakan tumbuuhan, ikan buas dan ikan pemakan campuran.Berdasarkan jumlah variasi dari makanan yang macamnya sedikit atau sempit dan ikan monophagus yaitu ikan yang makanannya terdiri dari satu jenis saja (Effendie, 1997).
            Umumnya makanan yang pertama kali datang dari luar untuk semua ikan dalam mengawali hidupnya ialah plankton yang bersel tunggal yang berukuran kecil.  Jika untuk pertama kali ikan itu menemukan makanan berukuran tepat dengan mulutnya diperlirakan akan dapat meneruskan hidupnya.  Tetapi apabila dalam waktu relatif singkat ikan tidak dapat menemukan makanan yang cocok dengan ukuran mulutnya akan menjadi kelaparan dan kehabisan tenaga yang mengakibatkan kematian.  Hal inilah yang antara lain menyebabkan ikan pada waktu masa larva mempunyai mortalitas besar.  Ikan yang berhasil mendapatkan makanan sesuai dengan ukuran mulut, setelah bertambah besar ikan itu akan merubah makanan baik dalam ukuran dan kualitasnya (Effendie, 2002).
Kebiasaan makanan (food habits) dan kebiasaan cara memakan (feeding habits) merupakan dua istilah yang seringkali disalahartikan dalam penggunaannya.  Yang termasuk dalam food habits adalah kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan ikan, sedangkan yang termasuk dalam feeding habits adalah waktu, tempat dan cara makanan itu didapatkan oleh ikan (Yasidi, 2009).





















III. METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Perikanan ini di lakasnakan pada tanggal 21 Januari pukul 08.00 – 15.30 bertempat di Laboratorium Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Kendari.
B.     Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan  yang digunakan dalam praktikum ini, yaitu dapat dilihat pada tabel satu berikut.
Tabel 1.  Alat dan Bahan yang digunakan pada Praktikum Beserta Kegunaannya
No
Alat / Bahan
Satuan
Kegunaan
1
Alat


-
Baki (Dissecting-pan)
-
Wadah menyimpan objek
-
Mistar 
cm
Mengukur panjang obyek yang diamati
-
Alat Tulis                                                             
-
Menulis hasil pengamatan  
-
Pisau bedah (scalpel)
-
Membedah  ikan
-
Pinset (forceps)
-
Menjepit Ikan
-
Timbangan digital
kg
Menimbang Ikan
-
Lap kasar dan halus
-
Membersihkan meja praktikum
-
Kertas label
-
Memberi label
-
Plastik
-
Menyimpan gonad
-
Tisu gulung
-
Membersihkan meja
2
Bahan


    -
Ikan Barakuda
gr
Sebagai Media Pengamatan

C.    Prosedur Kerja
a.      Hubungan Panjang dan Berat
Adapun prosedur kerja dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan pada praktikum.
2.      Mengambil satu persatu ikan yang tersedia, lalu mengukur panjangnya dengan menggunakan mistar dengan ketelitian 1 mm atau kapiler, mulai dari ujung mulut sampai ujung ekor terpanjang (panjang total).
3.      Mengukur bobot ikan atau berat ikan dengan menggunakan timbangan dengan ketelitian 0,01 gram.
4.      Mencatat hasil pengukuran tersebut pada lembar kerja yang telah disediakan.
5.      Melakukan analisis data hubungan panjang dan berat ikan dengan cara sebagai berikut :
a.       Metode Rousefell dan Everhart (1960) dan Lagler (1961)
b.      Metode Carlander (1968)
c.       Metode pengukuran dengan aplikassi Microsoft Office-Excel
b.      Tingkat Kematangan Gonad (TKG)
1.      Mengukur ikan segar yang telah disiapkan. Terlebih dahulu mengukur panjang totalnya (jarak antara ujung kepala yang terdepan dengan lengkung sirip ekor yang paling belakang) menggunakan mistar dengan ketelitian 1 mm dan bobotnya di timbang dengan timbangan digital berketelitian 0.01 g.
2.      Melakukan pembedahan terhadap sampel ikan. Menggunakan gunting bedah dan menusukkan bagian yang runcing ke bagian anus hingga terbentuk lubang kecil. Menggunting tubuh ikan kea rah rongga perut bagian atas, menggunting harus hati-hati agar organ-organ dalam tidak rusak karena tertusuk ataupun robek. Setelah gunting mencapai ujung terdepan dari rongga perut bagian atas (kepala belakang), gunting diarahkan ke bagian bawah hingga dasar perut. Kemudian membuka daging yang telah di gunting.
3.      Setelah melakukan pembedahan, maka organ tubuh bagian dalam pada ikan akan terlihat.
4.      Menentukan tahap perkembangan gonad pada ikan jantan dan betina dengan menggunakan buku penunjuk.
c.       Indeks Kematangan Gonad (IKG)
1.      Menimbang gonad ikan yang di peroleh pada praktikum 1 untuk memperoleh bobot gonad sebenarnya.
2.      Data panjang dan bobot ikan dipewroleh berdasarkan praktikum 1.
3.      Menghitung besarnya indeks kematangan gonad dan gonado indeks sesuai dengan formula yang telah ditentukan.

d.      Fekunditas

1.      Menganalisis fekunditas pada ikan dengan fekunditas sedikit dilakukan dengan menghitung langsung telur dari ikan yang matang gonad (TKGIV-V) dan menghitung di lakukan seluruhnya dengan cara di encerkan dengan air dan menghitung jumlah telur di bawah mikroskop.
2.      Untuk ikan-ikan yang mempunyai fekunditas dala jumlah besar, menghitung telur dapat dilakukan secara gravimetrik. 
3.      Mengambil sebagian telur (10%) dari bobot gonad pada bagian anterior, median, dan posterior, kemudian menghitungnya.
4.      Fekunditas populasi yaitu produksi telur ikan betina ang akan di hasilkan diketahui dengan persamaan
5.      Mengukur diameter telur dengan mengambil gonad ikan betina dari TKG III – V dari tiga bagian yang berbeda yaitu anterior, median dan posterior.
6.      Meletakkan telur berjajar pada gelas objektif lalau mengamato dengan menggunakan mikroskop yang dilengkapi micrometer okuler, sebelumnya mikrometer okuler di tera dengan mikrometer objektif.
7.      Hubungan fekunditas dengan panjang total tubuh menggunakan rumus.
8.      Untuk mendapatkan ukuran ikan pertama kali matang gonad dilakukan dengan memplotkan presentase ikan matang gonad dengan panjang totalnya. Panjang ikan minimum pada sekurang-kurangnya 50% dari ikan yang matang gonad (TKG IV dan V) dinyatakan sebagai ukuran ikan pertama kali matang gonad.

e.       Kebiasaan Makanan Ikan

1.      Menganalisis makanan alami dilakukan dengan membedah ikan. Untuk dapat melihat alat pencernaan mulai faring sampe anus, menggunting bagian bawah kepala hingga terbelah dua. Dengan cara ini alat pencernaan bagian depan (faring dan osephagus) dapat dilihat.
2.      Selanjutnya seluruh saluran pencernaanya dikeluarkan dan disimpan dalam botol sampel dan diawetkan dengan formalin 70%.
3.      Jenis-jenis makanan yang ditemukan dalam saluran pencernaan diamati dibawah mikroskop binokuler dan diidentifikasi berdasarkan Gosner (1971), Scahlan (1972), Yamaji (1979), Basmi (1997), Dharma (1988), Higgins dan Thiel (1988), dan Dharma (1992).
4.      Penentuan kebiasaan makan ikan dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti metode jumlah, frekuensi kejadian, tumpukan dalam persen, volumetric, gravimetrik, dan metode gabungan (Indeks relative penting dan indeks bagian terbesar).
5.      Pemilihan metode penentuan kebiasaan makanan ditentukan oleh jenis ikan (herbivora, karnivora dan omnivora).
a.       Metode jumlah
-          Semua organisme makanan serta benda-benda lain yang terdapat di dalam alat pencernaan dihitung satu per satu.
-          Satu macam organisme makanan kemudian dibandingkan dengan  organisme makanan lainnya.
-          Membuat histrogram hubungan antara jenis makanan (X) dan jumlah makana (Y).
b.      Metode frekuensi kejadian
-          Tiap-tiap isi alat pencernaan makanan dicatat organisme yang menjadi makanan ikan, demikian juga dengan alat pencernaan yang kosong.
-          Setiap organisme makanan yang terdapat dalam sejumlah saluran pencernaan yang berisi dinyatakan dalam persen dari seluruh alat pencernaan yang diteliti, namun tidak meliputi saluran pencernaan yang kosong.
-          Membuat histrogram hubungan antara jenis makana (X) dan frekuensi kejadian satu jenis makanan (Y).
c.       Metode volumetrik
-          Mengukur volume makanan yang terdapat dalam saluran pencernaan dengan teknik pemindahan air.
-          Mengeringkan makanan di atas kertas saring selama 5 menit.
-          Memisahkan masing-masing organisme makanan yang dapat dipisahkan dan volumenya diukur dalam keadaan kering udara.
-          Jika terdapat makanan yang tidak diketahui jenisnya, maka kemudian menggolongkannya ke dalam material yang tidak teridentrifikasi (MTT).
-          Seluruh volume makanan harus bernilai 100%.
D.    Analisis Data
Data-data yang telah diperoleh dalam praktikum ini selanjutnya dianalisis dengan pedekatan-pendekatan matematis dan pendekatan statistik.
1. Hubungan Panjang berat
Menurut Aslan (1996) bahwa formulasi umum yang dapat digunakan untuk menentukan  hubungan panjang berat adalah:
W = aL b
Dimana :  W = Berat ikan , L = Panjang ikan dan a = Konstanta 
Persamaan tersebut dapat ditransformasikan ke dalam bentuk logaritma dan akan diperoleh persamaan linear sebagai berikut:
Log W = Log a + b Log L
Tehnik perhitungan panjang berat dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu
a.      Secara Langsung
Untuk melakukan tekhnik perhitungan secara langsung terlebih dahulu dibuat suatu daftar (tabel) yang tersususn dari harga-harga L,W, Log L, Log W, Log L x Log W, (Log L)2, (Log W)2. Selanjutnya jumlah-jumlah yang diperoleh dimasukan ke dalam persamaan sebagai berikut:
b  = N(LogL x Log W) – (Log L) (Log W)
N(Log L)2- (Log L)2
a = Y – bX
Dimana :  Y = Log W
                           N
            X = Log L
                      N
r = N(Log L x Log W) – (Log L) (Log W)
            √N(Log L)2 – (Log L)2x (N(Log W)2 – (LogW)2

Nilai-nilai a dan b yang telah diperoleh dimasukkan ke dalam bentuk persamaan linear seperti yang dicantumkan pada halaman sebelumnya.
b.      Secara Tidak Langsung
Dalam tekhnik perhitungan dengan cara ini, mula-mula dari masing-masing logaritma harga terkecil dan terbesar setiap panjang dan berat. Dari perbedaan harga logaritma ini ditentukan banyaknya kelas yang dikehendaki dan selanjutnya harga beda log dibagi dengan banyaknya kelas yang dikehendaki. Untuk menyusun kelas-kelas ayang dikehendaki maka terlebih dahulu harus dicari tengah kelas dari kelas pertama. Tengah kelas pertama dengan setengah dari beda log tengah kelas. Untuk tengah kelas kedua, harganya merupakan pertambahan antara tengah kelas pertama dengan beda logaritma tengah-tengah kelas, demikian pula halnya dengan tengah kelas selanjutnya dan harga terendah dari tiap-tiap kelasnya.
Setelah nilai-nilai yang terdapat pada tabel yang dimaksud maka dihitung berdasarkan analisis “Weighted Regression” dengan asumsi bahwa varians kelas-kelas tersebut sama besar, yaitu:
       X = ΣnX
                N

       Y = ΣnY
                N

       ΣX2 = ΣnX2(ΣnX)2
                                  N

       ΣY2 = ΣnY2(ΣnY)2
                                  N

       ΣXY2 = ΣnXY – (ΣnX)2 (ΣnY)2
                                            N 

b = ΣXY                                b = Tangen sudut garis regresi X2
a = Y – bX                             a = Titik potong garis regresi dengan sumbu Y

Uji  T (Walpole,1982).
Σ d2xy = ΣY2 = ΣnY2(ΣXY)2
                                         ΣX2

S2 yx = Σ d2 xy
                N-2

S2 b = S2 yx
             Î£X2

Sb = √ S2 b      
Thit  = 3 - b
             Sb

Nilai Koefisien korelasi panjang dan berat adalah :
r    = Σ XY
       √ (ΣX2. ΣY2)

2.   Analisis Sidik Ragam
            Analisis varians pada persamaan regresi dicari menurut cara Snedecor and Cohran (1967) sedangkan analisis sidik cocok data terhadap model dilakukan seperti cara Drafer and Smith (1963).
a. Analisis Varians.
Perhitungan yang diperlukan untuk analisis varians adalah:
Jumlah Kuadrat Total (JKT) = Σ nY
Jumlah Kuadrat Nilai Tengah (JKNT)  = (Σ nY)2
                                                                       N
Jumlah Kuadrat Regresi (JKR)  = b Σ XY

Jumlah Kuadrat Sisa (JKS) = JKT – JKNT – JKR
Kuadrat Tengah Nilai Tengah   KTNT) = JKNT
                                                                   db NT
Kuadrat Tengah Regresi (KTR)  = JKR
                                                         db R
Kuadrat Tengah Sisa (KTS) = JKS
                                                  db S
Fhit = KTR
          KTS

b. Analisis Cocok Data
Perhitungan yang diperlukan untuk analisis cocok data adalah sebagai berikut:
X              Y              Y2
N              Y              Y2

  n = Y2-  ( Y )2
                  Î£n

JKAM  = n1 + n2 + n3 ………….+ nn
JKSTM = JKSTM
                db STM

KTAM  = JKAM
                 db AM

Fhit = KTSTM
          KTAM

Keterangan :
N               = Jumlah x yang sama nilainya (banyaknya x yang sama nilainya)
JKAM       = Jumlah Kuadrat Acak Murni
JKSTM      = Jumlah Kuadrat Simpangan terhadap Model
KTSTM     = Kuadrat Tengah Simpangan Terhadap Model
KTAM       = Kuadrat Tengah Acak Murni
db STM     = Derajat Bebas Simpangan Terhadap Model
db AM       = Derajat Bebas Acak Murni

3.  TKG dan IKG
Persamaan yang diperlukan untuk menghitung Indeks Kematangan Gonad yaitu :
IKG  =  Berat Gonad (Wg)    x   100 %
              Berat Tubuh (Wb)

Keterangan : IKG       = Indeks Kematangan Gonad (%)
                      Wg        = Berat Gonad (gr)
                      Wb        = Berat tubuh (gr)
4.   Studi Kebiasaan Makan
Untuk mengetahui studi kebiasaan makan ikan dapat digunakanan metode-metode berikut ini :
a. Metode Jumlah
Berdasarkan metode ini, maka persentase jumlah setiap organisme makanan adalah sebagai berikut:
Misal Organisme A =     Jumlah Organisme A pada lambung ikan
                              Jumlah semua organisme pada lambung ikan

b. Metode Frekuensi Kejadian
Berdasarkan metode ini, maka persentase Frekuensi kejadian setiap organisme makanan adalah sebagai berikut:
Misal Organisme A =         Jumlah frekuensi kejadian pada lambung A
                             Jumlah semua frekuensi kejadian pada lambung ikan

c. Metode Volumerik
Berdasarkan metode ini, maka persentase setiap organisme makanan adalah sebagai berikut:
Misal Organisme A =      Volume rata-rata organisme A
                                 Jumlah semua volume rata-rata


d. Indeks Relatif Penting
Penggabungan dari metode jumlah, volumerik dan frekuensi kejadian menghasilkan peramaan sebagai berikut :
IRP       = (N + V) F
Dimana :          IRP      = Indeks Relatif Penting (%)
                        N          = Persentase jumlah satu macam makanan
                        V          = Persentase volume satu macam makanan
                        F           = Frekuensi kejadian satu macam makanan

e. Indeks Bagian Terbesar
Indeks bagian terbesar merupakan penggabungan dari metode frekuensi kejadian dengan metode volumerik yang menghasilkan persamaan :
IBT = Vi x Oi     x 100 %
            ΣViOi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
            Adapun hasil pengamatan dari praktikum ini meliputi hubungan panjang  berat ikan, Fekunditas, Tahap Kematangan Gonat ( TKG ), Indeks Kematangan Gonat ( IKG ), dan Kebiasaan Makan. Hasil pengamatan dapat dilihat pada tabel berikut ini.
a. Hasil Pengamatan Hubungan Panjang Berat.
            Berikut ini adalah hasil pengamatan hubungan panjang berat ikan dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Hubungan Panjang Berat Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda)
No.
Jenis Kelamin
Jumlah
Nilai a
Nilai b
Ket
1
Jantan
56
-0.00040603
1,217814

2
Betina
44
-0.00114745532738463
1.29887475197202


b. Hasil Pengamatan Fekunditas Ikan
      Berikut ini adalah hasil pengamatan fekunditas ikan dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Fekunditas Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda)
No.
L
W
CB
1
22
1.85
18%
2
23
2.36
8%
3
23
0.38
11%
4
23
2.6
6%
5
22
0.57
2%
6
26
3.1
11%
7
45
2.52
3%
8
33
0.35
3%
9
74
6.45
7%
10
33
0.71
7%
11
21
1.17
2%
12
23,7
1.76
3%
13
24,2
3.04
4%
14
23,1
2.36
2%
15
22,7
1.78
2%
16
25
3.26
3%
17
23,2
2.31
4%
18
24,5
2.61
3%
19
25,2
3.16
2%
jumlah
370
42.34
100%

c.   Hasil Pengamatan TKG
Berikut ini adalah hasil pengamatan Tahap Kematangan Gonat (TKG) dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Hasil Pengamatan TKG Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda)
No.
Jenis kelamin
jumlah
TKG
I
II
III
IV
1.
Jantan
56
21
28
6
1
2.
Betina
44
2
11
12
19

d.      Hasil Pengamatan IKG
Berikut ini adalah hasil Pengamatan Indeks Kematangan Gonat (IKG) dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Hasil Pengamatan IKG Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda)
No.
Jenis kelamin
Æ© IKG
1.
Jantan
0,601914
2.
Betina
1,282808










e.       Hasil Pengamatan Kebiasaan Makan
Berikut ini adalah hasil pengamatan kebiasaan makan ikan dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Hasil Pengamatan IKG Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda)
No.
Berat (g)
Jenis Makanan
Teri
MTT
1
0,89
0
100
2
3,62
75
25
3
1,20
25
75
4
3,44
100
0
5
1,59
25
75
6
3,56
50
50
7
3,89
75
25
8
1,12
75
25
9
0,65
0
100
10
0,70
0
100
11
1,76
100
0
12
0,59
75
25
13
2,22
25
75
14
0,60
75
25
15
1,69
30
70
16
1,44
40
60
17
1,89
65
35
18
3,21
15
85
19
0,51
0
100
20
0,96
90
10

Jumlah
940
1060







B. Pembahasan
a.   Hubungan Panjang Berat Ikan
Panjang berat merupakan pertambahan panjang dan berat dalam suatu waktu tertentu. Pertumbuhan dalam individu adalah pertumbuhan jaringan akibat pembelahan sel secara mitosis. Hal ini terjadi bila ada kelebihan input energi dan asam amino (protein) dari makanan, sebab bahan dari makanan akan digunakan oleh tubuh untuk melakukan metabolisme dasar, pergerakan, reproduksi, produksi organ seksual, perawatan bagian-bagian tubuh dan sebagainya (Effendie, 2002).
Pada praktikum ini, objek yang diamati adalah ikan barakuda (Sphyraena barracuda). Hubungan panjang dan berat ikan dianalisis untuk menduga pola pertumbuhannya. Berdasarkan hasil analisis regresi hubungan panjang dan berat ikan barakuda (Sphyraena barracuda) menunjukkan pada ikan jantan nilai koefisien b = 1,217814 yang berarti menunjukkan pola pertumbuhannya allometrik. Hal ini membuktikan bahwa pola pertumbuhan panjang ikan jantan lebih cepat dibandikan pola pertumbuhan berat ikan. Hasil pengamatan hubungan panjang berat ikan jantan dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Hubungan Panjang Berat Ikan Jantan Pada Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda).

Sementara pada ikan betina menunjukkan pola pertumbuhan yang allometrik yang berarti pola pertumbuhan panjang ikan lebih cepat dibandingkan pola pertumbuhan berat ikan. Hal ini dilihat pada nilai koefisien b ikan betina =  1.29887475197202. Adapun hasil pengamatan hubungan panjang berat ikan betina dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Hubungan Panjang Berat Ikan betina pada ikan Barakuda (Sphyraena barracuda).

            Kondisi ini diduga disebabkan oleh berbagai faktor lingkungan  yang berbeda tiap lokasi yang dapat memengaruhi pertumbuhan seperti makanan yang terbatas di perairan akan menyebabkan pertumbuhan berat ikan semakin melambat.
b.   Fekunditas
Fekunditas adalah jumah telur yang akan dikeluarkan pada saat melakukan pemijahan. Fekunditas yang diperoleh dapat dibandingkan dengan ukuran dari setiap individu ikan sehingga akan didapatkan informasi tentang jumlah anak ikan yang dihasilkan pada ukuran yang berbeda-beda.
Pada praktikum ini jumlah ikan Barakuda (Sphyraena barracuda) yang memiliki fekunditas ditemukan berjumlah 19 ekor dengan TKG tingkat IV. Ikan jantan berjumlah 1 ekor dan ikan betina berjumlah 18 ekor. Hasil analisis hubungan fekunditas  adalah nilai L = 370 dan W = 42.34. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa hubungan fekunditas dengan panjang total adalah rendah, sedangkan hubungan fekunditas dengan berat tubuh adalah sedang.
c.   Tahap Kematangan Gonat (TKG)
            Tingkat kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan melakukan reproduksi dan yang tidak serta mengetahui bilamana ikan itu memijah atau sudah selesai memijah (Sudirman dan Karim, 2008). Sebaran diameter telur pada tiap tingkatan kematangan gonad akan mencerminkan pola pemijahan ikan tersebut.
            Dari hasil pengamatan menunjukan bahwa ikan Barakuda (Sphyraena barracuda) jantan ditemukan mulai TKG I sampai TKG IV berjumlah 56 ekor  dan ikan betina ditemukan memiliki TKG I dan IV berjumlah 44 ekor. 

d.   Indeks Kematangan Gonat
perubahan IKG berat kaitannya dengan tahap perkembangan Telur atau TKG. Nilai IKG ikan Barakuda (Sphyraena barracuda) dihitung dengan perbandingan antara berat gonat dengan berat tubuh ikan yang dinyatakan dalam persen.
Pada ikan jantan dan betina selama penelitian relatif berbeda. Nilai IKG pada ikan jantan adalah 0,601914. Sementara pada ikan betina nilai IKG yang ditemukan adalah 1,282808. Nilai IKG ikan dinyatakan dalam persen yang berarti ikan jantan sebesar 0.6 % dan ikan betina sebesar 1.2%.
Peningkatan nilai indeks kematangan gonad ikan barakuda umumnya sejalan dengan perkembangan gonad. IKG akan semakin meningkat dan mencapai kisaran maksimum saat akan terjadi pemijahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendie (2002) bahwa sejalan dengan perkembangan gonad, IKG akan semakin bertambah besar dan nilai IKG akan mencapai batas kisaran maksimum saat akan terjadi pemijahan. Perbedaan indeks kematangan gonad ikan jantan dan betina disebabkan oleh tingginya indeks kematangan gonad ikan betina dibandingkan ikan jantan pada tingkat kematangan gonad yang sama. Asriyana dan La Sara (2013) menyatakan bahwa indeks kematangan gonad ikan meningkat sejalan dengan meningkatnya tingkat kematangan gonad. Hal ini disebabkan oleh pertambahan bobot ovarium selalu lebih besar dari pertambahan bobot testes. Peningkatan bobot ovarium berhubungan dengan proses vitellogenesis dalam perkembangan gonad, sedangkan peningkatan bobot testes berhubungan dengan proses spermatogenesis dan peningkatan volume semen dalam tubulus seminiferi. Proses tersebut sangan bergantung pada ketersediaan makanan sebagai sumber energi untuk  perkembangan somatik dan reproduksinya.
e.   Kebiasaan Makan Ikan
Dalam menentukan kebiasaan makan ikan dikenal beberapa aspek diantaranya adalah tempat atau lokasi makan waktu makan cara makan ikan dan jenis makan kegemaran ikan. Kedua kebiasaan itu tidak sama antara jenis ikan yang satu dengan Jenis ikan yang lainnya.
Berdasarkan hasil pengamatan volume makanan ikan barakuda diketahui bahwa jenis makanan ikan teri lebih besar daripada yang tidak diketahui (MTT). Hasil perhitungan kebiasaan makan ikan barakuda adalah ikan teri sebesar 53% dan MTT 47%.  Berdasarkan hasil pengamatan bahwa ikan barakuda memiliki sifat karnivora dimana pemakan daging. Besarnya populasi ikan dalam suatu perairan antara lain ditentukan oleh makanan yang tersedia. Dari makanan ini ada beberapa faktor yang berhubungan dengan populasi tersebut yaitu jumlah dan kuantitas makanan yang tersedia. Dari hasil pengamatan kebiasaan makan ikan dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar 3. Kebiasaan makan ikan barakuda (Sphyraena barracuda)

V.   SIMPULAN DAN SARAN
A.  Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Hubungan panjang berat ikan barakuda (Sphyraena barracuda ) tidak seimbang sehingga pertumbuhannya dikatakan pertumbuhan allometrik, dimana nilai b lebih kecil dari 3.
2.      Hubungan panjang dan fekunditas pada ikan barakuda (Sphyraena barracuda) dinyatakan dalam persen. Fekunditas ikan tersebut merupakan hasil pengamatan beberapa jenis ikan.
3.       TKG masing-masing ikan yang diperoleh yaitu TKG IV dimana sudah terlihat gonad pada ikan tersebut.
4.      IKG ikan barakuda (Sphyraena barracuda )yaitu1,822 %.
5.      Volume makanan ikan barakuda (Sphyraena barracuda ) dinyatakan dalam persen.
B.   Saran
Sebaiknya praktikum selain dilaksanakan di Laboratorium juga dapat dilakukan langsung di lapangan sehingga kita dapat mengetahui pengetahuan tentang hubungan panjang berat, fekunditas, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad serta kebiasaan makanan ikan dapat diketahui lebih detail.





DAFTAR PUSTAKA




Alamsyah, R, Musbir., Amir, F. 2014. Size Structure and Decent Size Capture of Skipjack Tuna (Katsuwonus pelamis) in Bone Bay Waters. Jurnal Sains dan Teknologi. FPIK: UNHAS. 14. 1: 80-95.
Al-Zibdah, M., dan Odat, N. (2007). Fishery Status, Growth, Reproduction Biology and Feeding Habit of Two Scombrid Fish from the Gulf of Aqaba, Red Sea. Lebanese Science Journal, 8 .2 :39-47
Andrade,  H. A. dan Campos, R. O. (2002) Allometry Coefficient Variations of the Length-weight Relationship of Skipjack Tuna (Katsuwonus pelamis) Caught in the Southwest South Atlantic. Fisheries Research, 55:307-312.
Anggarainy, L. 1991. Estimasi Potensi Cakalang Berdasarkan Parameter Biologi di Perairan Kepulauan Bacan Kabupaten Maluku Utara. Makassar 45 hal.
Asriyana., dan La Sara. 2013 Beberapa Aspek Biologi Reproduksi Ikan Siro (Sardinella longiceps Val.) di Perairan Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara. Jurnal Iktiologi Indonesia. 13 (1):1-11.
Baso, H., 2013. Kajian Biologi Populasi Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Luwu Teluk Bone. Tesis. PPs Unhas. Makassar. 123 hal.
Ditjen Perikanan. 1998. Buku Pedoman Pengenalan Sumberdaya Perikanan Laut. Direktorat Jendral Perikana Departemen Pertanian. Jakarta.
Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Armico Press. Bandung. 190 hal.
Effendie, M. I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama Yogyakarta. 163
English, S.,C. Wilkinson and Baker V. 1994. (Survey Manual For Tropical Marine Resources).ASEAN-Australian Marine Science Project : Living Coastral Resources . Australian Institute of Marine Science. Townsville.
Fafioye, O. and O.A. Olaujo. 2005. Length-Weight Relationships of Five Fish Species in Efe Logon. Nigeria, African Journal of Biotechnologi : 4. (7). 749-751.
Fujaya, Y., 1999. Fisiologi ikan. Rineka Cipta. Jakarta.
Gafa, B., T. Sufendrata dan J.C.B. Uktolseja. 1987. Penandaan Ikan Cakalang dan Madidihang di Sekitar Rumpon Teluk Tomini - Sulawesi Utara. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta. No. 43: 67-74.
Gigenetika, S. 2012. Optimal Pengembangan Perikanan Cakalang di Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tesis. Bogor. Pascasarjana IPB.
Grande, M., H. Murua, I. Zudaire, and M. Korta. (2010). Spawning Activity and Batch Fecundity of Skipjack, Katsuwonus pelamis, in The Western Indian Ocean. IOTC-2010- WPTT-47.
Hasan, M. Iqbal. 2001. Pokok-Pokok Materi Statistik I (Statistik Deskriptif), Bumi Aksara. Jakarta.
Itano,D.G., 2011. The Reproductive Biology of Yellowfin Tuna (Thunnus Albacore) In Hawaian Waters And Teg Western Tropical Pacific Ocean. Project Summary, Joint Institute for Marine and Atmospheric Research and NOAA, 75 p
Jamal, M., Sondita, F.A., Haluan, J., dan Wiryawan, B. (2011). Pemanfaatan Data Biologi Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) dalam Rangka Pengelolaan Perikanan Beranggung Jawab di Perairan Teluk Bone. Jurnal Natur Indonesia. 14. (1): 107-113.
Kalayci, F., Samsun, N., Bilgin, S. dan Samsun, O. 2007. Length-weight Relationship of 10 Caught by Bottom Trawl and Midwater Trawl From The Middle Black Sea, Turkey. Tourkish Journal of Fisheries and Aquatic Sciences 7: 33-36.
Kharat SS, Y. K. Khillare, dan N. Dahanukar. 2008. Allometric scalling in Growth and Reproduction of a Freshwater Loach Nemacheilus mooreh (Sykes 1839). Electronic Journal of Ichthyology. 4(1): 8-17
Koya, K.P.S., Joshi, K.K., Abdussamad, E.M., Rohit, P., Sivadas, M., Kuriakose, S., Ghosh, H., Koya, M., Dhodika, H.K., Prakasan, D., Koya, V.A.K., and Sebastine, M. (2012). Fishery, Biology, and Stock Structure of Skipjack Tuna, Katsuwonus pelamis (Linnaeus, 1758) Exploited From Indian Waters. Indian Journal Fisheries. 59:39-47.
King, M. 1995. Fisheries Biology, Assessment and Management. Fishing News Books. A Division of Blackwell Science Ltd. London.
La Sara. 2001. Ecology and Fisheriesn of Mud Crab (Scylla serrata) in Lawele Bay, Southheast Sulawesi, Indonesia. Pd.D. Dissertation College of Fisheries and Ocean Science, University of The Philippines, Miagao, Iloilo. Philippines.
Lelono TD. 2007. Dinamika Populasi dan Biologi Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) yang Tertangkap dengan Purse Seine di Pelabuhan Perikanan Nusantara Parigi Trenggalek, p. 1-11. In: Isnansetyo A, Murwantoko, Yusuf IBL, Djumanto, Saksono H, Dewi IP, Setyobudi E, Soeparno, Prabasunu N, Budhiyanti SA, Ekantari N, Ptiyono SB (editor). Prosiding: Seminar Nasional Tahunan IV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2007. Jurusan Perikanan dan Kelautan. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Mallawa A, F. Amir, dan M. Zainuddin. 2014. Keragaan Biologi Populasi Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis) yang Tertangkap Dengan Purse Seine Pada Musim Timur Di Perairan Laut Flores. Jurnal IPTEKS PSP. 1 (2) : 129-145.
Mallawa, A., Musbir, F. Amir, dan A. A. Marimba, 2012. Analisis Struktur Ukuran Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) Menurut Musim, Daerah dan Teknologi Penangkapan Ikan di Perairan Luwu Teluk Bone, Sulawesi Selatan. J. Sains dan Teknologi Balik Diwa. Vol. 3 No. 2 :29 – 38.