I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Biologi
Perikanan adalah studi mengenai ikan sebagai sumberdaya yang dapat dipanen oleh
manusia. Kadang pengertian istilah Biologi ikan ditujukan kepada pengertian
fisiologi, reproduksi, pertumbuhan, kebiasaan makanan, tingkah laku, dan
sebagainya. Usaha mengembangkan dan memajukan perikanan, pengetahuan mengenai
habitat, penyebaran dan aspek biologi dari ikan menjadi dasar utama dalam usaha
ini, dimana kematangan gonad sangat berhubungan dengan pemijahan. Tak terkecuali
dengan fekunditas yang juga memegang peranan penting dalam penentuan
kelangsungan populasi dan dinamika kehidupan. Hubungan panjang berat akan
bermanfaat dalam menentukan nilai faktor kondisi dan sifat pertumbuhan ikan.
Ikan
sebagai salah satu sumber daya laut mempunyai peranan yang sangat penting bagi
kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan pangan dan menjadi komoditi
perdagangan. Dalam pemanfaatannya dilakukan dengan dua cara yaitu kegiatan
penangkapan dan kegiatan budidaya. Kegiatan penangkapan berlebih (Over fishing)
dapat menyebabkan menurunnya stok ikan sehingga perlu adanya upaya untuk tetap
memelihara stok sumber daya ikan (konservasi, menjaga kualitas habitat,
budidaya, pemahaman terhadap aspek biologi).
Barakuda
adalah ikan dalam kelas Actinopterygii yang dikenal berwujud menyeramkan dan
berukuran tubuh besar, yaitu sampai panjang enam kaki dan lebar satu kaki.
Tubuhnya panjang dan ditutupi oleh sisik yang halus. Ikan ini dapat ditemukan
di samudra tropis dan subtropis di seluruh dunia. Barakuda adalah anggota genus
Sphyraena, satu-satunya genus dalam familia Sphyraenidae.
Dalam
praktikum biologi perikanan ini, ada beberapa hal yang perlu diketahui dari
ikan barakuda yaitu meliputi hubungan panjang berat, tingkat kematangan gonad
(TKG), indeks kematngan gonad (IKG), fekunditas, faktor kondisi dan kebiasaan
makanan. Selain itu panjang mempunyai hubungan dengan berat tubuh ikan panjang
juga mempunyai hubungan dengan fekunditas. Fekunditas merupakan semua
telur-telur yang dikeluarkan pada waktu ikan melakukan pemijahan. Dengan
mengetahui fekunditas dapat ditaksir jumlah anak yang dihasilkan dan juga dapat
ditentukan jumlah ikan dalam kelas umur tertentu.
B . Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan dari praktikum biologi perikanan
ini adalah untuk mengetahui hubungan panjang dan berat, Fekunditas, Tahap
kematangan gonat (TKG), Indeks kematangan gonat (IKG) , Kebiasaan makan dan cara makan pada ikan barakuda
(Sphyraena barracuda ).
Kegunaan
dari praktikum ini adalah agar para praktikan memperoleh informasi dasar
mengenai ikan barakuda (Sphyraena
barracuda ) mulai dari klasifikasi dan morfologi ikan ini hingga kebiasaan
makannya.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Klasifikasi Dan Morfologi Ikan barakuda (Sphyraena barracuda )
Menurut (Cuvier, 1892), menyatakan bahwa
taksonomi ikan barakuda adalah sebagai berikut :
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Famili : Sphyraenidae
Genus : Sphyraena
Spesies : Sphyraena baraccuda

Gambar 1. Ikan
barakuda (Sphyraena barracuda )
Ikan
barakuda dikenal berwujud menyeramkan dengan tubuh berukuran besar memanjang
dan ditutupi oleh sisik-sisik yang halus, yaitu dengan panjang bisa mencapai
enam kaki dan lebar satu kaki. Ikan barakuda besar memiliki rahang yang kuat
dengan didukung oleh sederetan gigi-gigi yang panjang meruncing dan tajam, yang
sanggup memutuskan jari-jari manusia pada saat menangkap dan memegangnya. Sirip
punggung pertama memiliki 5 duri, dan yang kedua 10 duri. Terdapat sekitar
75-90 sisik sepanjang garis lateral. Insang ikan barakuda hampir berbentuk
bulatan. Rahang lebih pendek dari pada rahang bawah. Seekor ikan Barakuda besar
dewasa memiliki bercak hitam yang tidak beraturan pada sisi bawah perutnya,
terutama yang didekat ekor (Suryanto, 2013).
Warna
punggung ikan barakuda abu-abu kebiruan, warna badan bagian bawah
keperak-perakan, terdapat 18-23 ban-ban yang membentuk sudut melintang badan
melalui garis rusuk. Kedua sirip punggungnya biru kehitaman dan pada ujung
sirip dubur warnanya agak gelap. Warna sirip-siripnya kuning ke abu-abuan, pada
bagian ujung dari sirip punggung kedua, dubur, dan ekor, berwarna putih (Purnomowati dkk, 2008).
Barakuda
adalah ikan memanjang, pike -seperti dalam penampilan, dengan menonjol tajam ,
taring -seperti gigi, mirip piranha, yang semuanya berbeda ukuran yang
ditetapkan dalam soket rahang besar mereka. Mereka memiliki kepala besar dengan
menunjuk gigitan bawah dalam banyak spesies. Insang mereka meliputi tidak
memiliki duri dan ditutup dengan kecil sisik. Dua mereka sirip punggung secara
luas dipisahkan dengan sirip anterior memiliki lima duri, sirip posterior
memiliki satu tulang belakang dan sembilan sinar lembut. Sirip punggung
posterior mirip dengan ukuran sirip anal dan terletak di atasnya. Para garis
lateral menonjol dan memanjang lurus dari kepala hingga ekor. Sirip punggung
spinosus ditempatkan di atas sirip pelvis dan biasanya ditarik kembali dalam
alur. Para sirip ekor bercabang ini cukup dengan posteriornya bermata
dua-melengkung dan ditetapkan pada akhir kokoh gagang bunga . Para sirip dada
rendah ditempatkan di sisi. Mereka kandung kemih berenang adalah besar.
Dalam
kebanyakan kasus, mereka adalah hijau tua, biru tua, atau abu-abu pada tubuh
bagian atas mereka dengan sisi keperakan dan berkapur putih perut. Warna
bervariasi antar spesies. Untuk beberapa spesies, ada bintik-bintik hitam yang
tidak teratur atau deretan gelap lintas-bar di setiap sisi. Sirip mereka
mungkin kekuningan atau kehitaman. Barakuda tinggal terutama di lautan, tetapi
spesies tertentu seperti Barracuda Besar hidup di air payau.
Beberapa
spesies tumbuh cukup besar, seperti barakuda Eropa, barracouta atau SPET (S.
sphyraena), ditemukan di Laut Mediterania dan timur Atlantik , sedangkan
barakuda Besar , picuda atau becuna (S. picuda), mulai di pantai Atlantik
tropis Amerika dari North Carolina ke Brasil dan mencapai Bermuda . Lain
barakuda spesies yang ditemukan di seluruh dunia. Contohnya adalah California
Barracuda (S. argentea), membentang dari Puget Sound selatan ke Cabo San Lucas
, barakuda India (S. jello) dan hitam-bersirip atau commerson yang barakuda (S.
commersoni), dari lautan India dan Semenanjung Melayu dan Nusantara .
B.
Habitat Dan Distribusi Ikan barakuda (Sphyraena
barracuda )
Ikan
barakuda banyak ditemui didaerah perairan dangkal pada selat-selat, semenanjung
dan teluk-teluk dipantai, Terdapat dihampir semua lautan tropis dan subtropis
kecuali Samudera Pasifik Timur. Penyebarannya banyak ditemukan di lepas pantai
dan perairan pantai sekitar karang, dermaga, bangkai kapal tenggelam, Gosong
Pasir dan Padang Lamun (Suryanto, 2013). Beberapa spesies yang cukup
besar, seperti barakuda Eropa, barracouta atau SPET (S. sphyraena), ditemukan
di Laut Mediterania dan timur Atlantik, barakuda India (S. jello)
dan commerson barakuda (S. commersoni), terdapat di lautan India dan
Semenanjung Melayu dan Nusantara (Rocky, 2012).
Sphyraena
barracuda adalah ikan pelagis, ditemukan di terumbu dangkal, di lebih-rak
terumbu dalam dan di rak-tepi karang dalam (Feitoza et al. 2005). Ini feed
terutama pada sekolah pesisir dan ikan karang (de Sylva 1981), cumi dan udang
(Cervigon 1993). Remaja dan individu kecil sekolah dan biasanya ditemukan di
atas perairan dangkal lebih berpasir, pantat kurus dan mangrove. Orang dewasa yang
lebih besar (> 65 cm panjang standar) biasanya soliter dan menemukan di
daerah terumbu karang dan perairan lepas pantai (Kells dan Carpenter 2011).
Spesies
ini telah diamati dan mungkin terkait dengan perilaku pemijahan. Spesies ini
adalah predator rakus dan biasanya dapat ditemukan di atas struktur dan
terumbu. Panjang maksimum untuk spesies ini adalah 200 cm (Robins dan Ray
1986). Maksimum berat diterbitkan adalah 50 kg (De Sylva 1990).
Hal
ini dapat mencapai setidaknya 14 tahun. Kebanyakan jantan dari spesies ini
matang oleh dua tahun dan semua yang matang oleh tiga tahun. Mayoritas dewasa
di tiga tahun dan semua yang matang oleh empat tahun. Barakuda muda akan
menghabiskan musim panas pertama mereka di daerah pembibitan dangkal, dan
bergerak lepas pantai untuk air yang lebih dalam di akhir musim gugur. Selama
musim panas kedua muda. Barakuda akan memasuki habitat mangrove atau tempat
tidur gulma lebih dalam. Pada tahun ketiga memasuki habitat karang-karang.
Sphyraena barracuda menggunakan padang lamun dan mangrove sebagai biotop
lifestage (Nagelkerken et al. 2000).
C. Biologi Reproduksi Ikan
1. Hubungan Panjang Berat
Pertumbuhan
adalah pertambahan ukuran, baik panjang maupun berat. Pertumbuhan dipengaruhi
faktor genetik, hormon, dan lingkungan (zat hara). Ketiga faktor tersebut
bekerja saling mempengaruhi, baik dalam arti saling menunjang maupun saaling
menghalangi untuk dikendalikan perkembangan ikan (Fujaya, 1999).
Panjang
berat merupakan pertambahan panjang dan berat dalam suatu waktu tertentu.
Pertumbuhan dalam individu adalah pertumbuhan jaringan akibat pembelahan sel
secara mitosis. Hal ini terjadi bila ada kelebihan input energi dan asam amino
(protein) dari makanan, sebab bahan dari makanan akan digunakan oleh tubuh
untuk melakukan metabolisme dasar, pergerakan, reproduksi, produksi organ
seksual, perawatan bagian-bagian tubuh dan sebagainya (Effendie, 2002).
Analisis
hubungan panjang berat dari suatu poplasi ikan mempunyai beberapa kegunaan
yaitu memprediksi berat suatu jenis ikan dari panjang ikan yang berguna untuk
mengetahui biomassa populasi ikan tersebut. Analisis panjang berat yang
dihubungkan dengan data kelompok umur dapat digunakan untuk mengetahui
komposisi stok, umur saat pertama memijah, siklus kehidupan, kematian, pertumbuhn
dan reproduksi (Fafioye dan Olaujuon, 2005).
2.
Tingkat
Kematangan Gonad (TKG)
Menurut
Effendie (2002), TKG adalah tahap-tahap
tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Proses
reproduksi, sebelum terjadi pemijahan, sebagai hasil metabolisme tertuju untuk
perkembangan gonad. Gonad akan bertambah besar dengan semakin bertambah besar
ukurannya. Ukuran panjang ikan saat pertama kali matang gonad berhubungan
dengan pertumbuhan ikan dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya terutama
ketersediaan makanan, oleh karena itu ukuran ikan saat pertama kali matang
gonad tidak selalu sama.
Perubahan
kematangan gonag diperlukan dalam biologi perikanan untuk mengetahui ikan-ikan
yang akan melakukan reproduksi dan tidak. Pengetahuan tentang tahap kematangan
gonad ini juga akan membantu dalam memperoleh keterangan waktu ikan akan
memijah, baru memijah, dan atau sudah memijah. Pengetahuan mengenai ukuran ikan
untuk pertama kali gonadnya menjadi masak, ada hubungan dengan pertumbuhan ikan
itu sendiri, dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi (Effendie, 2002)
Spesies
ikan pertama kali matang gonad pada ukuran yang tidak sama, demikian pula ikan
yang sama spesiesnya, jika tersebar pada lintang yang berbeda lebih dari lima
derajat, akan mengalami perbedaan ukuran dan umur pertama kali matang gonad.
Faktor utama yang mempengaruhi kematangan gonad di daerah bermusim empat
antaraa lain adalah suhu dan makanan, tetapi untuk ikan yang berada di daerah
tropis suhu perubahanya relative tidak besar umumnya gonad masak lebih cepat
(Effendie, 2002).
Tingkat
kematangan gonad dapat dipergunakan sebagai penduga status reproduksi ikan,
ukuran, dan umur pada saat pertama kali matang gonad, proporsi jumlah stok yang
secara produktif matang dengan pemahaman tentang siklus reproduksi bagi suatu
populasi atau spesies (Effendie, 2002).
Selanjutnya
Effendie (2002),
mengemukakan bahwa pengamatan gonad dilakukan dengan dua cara. Pertama, cara
histologi dilakukan di laboratorium. Cara kedua, pengamatan morfologi yang
dapat dilakukan di laboratorium dan dapat pula dilakukan di lapangan. Hasil pengamatan secara morfologi ini
banyak dilakukan para peneliti. Dasar yang dipakani untuk menentukan tingkat
kematangan gonad dengan cara morfologi adalah bentuk, ukuran panjang dan berat,
warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat.
3.
Indeks Kematangan Gonad
(IKG)
Indeks
kematangan gonad merupakan perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh
yang nilainya dinyatakan dalam persen. Gonad akan semakin bertambah berat
dengan semakin bertambahnya ukuran gonad dan diameter telur. Berat gonad akan
mencapai maksimum sesaat sebelum ikan memijah, kemudian menurun dengan cepat
selama pemijahan berlangsung hingga selesai (Effendie, 2002). Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian Siregar (2003), yang menyatakan bahwa ikan yang memilki
TKG rendah, IKG-nya pun rendah begitupun sebaliknya, ikan yang memiliki TKG
tinggi, maka nilai IKG-nya pun tinggi.
Nilai indeks kematangan gonad dapat
digunakan untuk menentukan terjadinya musim pemijahan ikan. Menurut Effendie
(2002), indeks kematangan gonad akan semakin meningkat dan akan mencapai batas
maksimum pada saat akan terjadi pemijahan. Pada spesies ikan terlihat bahwa semakin tinggi
tingkat kematangan gonad, makan nilai indeks kematangan gonad semakin
meningkat.
Dalam proses reproduksi, sebelum
terjadi pemijahan sebagian besar hasil metabolisme tertuju pada perkembangan
gonad. Semakin bertambah gonad ikan, makan ukuran gonad dan diameter telur juga
akan semakin besar. Berat gonad akan maksimum pada saat ikan akan memijah,
kemudian berat akan menurun dengan cepat selama pemijahan sedang berlangsung
(Effendie, 2002).
Umumnya
gonad akan semakin bertambah berat dengan bertambahnya ukuran gonad dan
diameter telur. Tingkat kematangan gonad yang sama, indeks kematangan gonad
ikan jantan akan berbeda dengan ikan betina. Umumnya kisaran indeks kematangan
gonad ikan betina lebih besar dibandingkan indeks kematangan gonad ikan jantan.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan ukuran gonad antara ikan jantan dan betina.
Biasanyaa ovarium pada ikan betina akan lebih berat daripada testis pada ikan
jantan. Berat gonad mencapai maksimum sesaat sebelum ikan akan memijah dan
nilai tingkat kematangan gonad akan mencapai maksimum pada kondisi tersebut
(Effendie, 2002)
Selanjutnya, Effendie (2002), juga mengatakan bahwa
perubahan-perubahan morfologi di atas dapat dinyatakan dengan tingkat
kematangan gonad. Mengetahui perubahan secara kuantitatif adalah dengan indeks
kematangan gonad (IKG). Indeks kematangan gonad sering juga disebut dengan
“Maturity” atau Gonad Somatic Indeks”.
4.
Fekunditas
Menurut Effendie (2002), fekunditas adalah jumlah
telur yang dikeluarkan ikan pada saat memijah. Secara umum fekunditas meningkat
sesuai dengan ukuran berat tubuh ikan
betina. Fekunditas secara tidak langsung dapat dipergunakan untuk memperkirakan
banyaknya ikan yang akan dihasilkan. Menghitung jumlah telur dalam gonad ikan
biasanya diambil yang tingkat kematangan gonadnya sudah tinggi atau bila
dilihat secara visual adalah yang sudah terlihat butiran-butiran telur yang
terpisah-terpisah.
Fekunditas pada setiap ukuran panjang dan berat ikan
tidak selamanya berbanding lurus dengan ukuran tubuh, dimana ikan yang ukuran
tubuhnya kecil memiliki fekunditas yang kecil, sebaliknya ikan yang ukurannya
besar memiliki nilai fekunditas yang besar, akan tetapi ada juga ikan yang
ukuran tubuhnya besar namun memiliki fekunditas yang kecil. Tinggi rendahnya
fekunditas tersebut disebabkan oleh perbedaan berat gonad dan berat kecilnya
telur sebagaimana yang dikemukakan oleh Effendie (2000), bahwa ikan yang ukuran
telurnya lebih besar memiliki fekunditas yang lebih besar daripada ikan yang
ukuran telurnya kecil.
Ikan
yang memiliki fekunditas yang besar umumnya memijah di permukaan dan mempunyai
kebiasaan tidak menjaga telurnya, sedangkan yang memiliki fekunditas yang kecil
memiliki kebiasaan menempelkan telurnya pada substrat dan menjaga telurnya dari
pemangsa (Nikolsky, 1969 dalam
Miazwir, 2012).
5.
Kebiasaan Makan Ikan
Basarnya
populasi ikan dalam suatu perairan antara lain ditentukan oleh makanan yang
tersedia yaitu jumlah dan juga kualitas, mudahnya tersedia makanan serta
lamanya pengambilan (Effendie, 1979).
Kebiasaan makanan adalah
jenis, kuantitas dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan
kebiasaan cara makan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu,
tempat dan bagaimana cara ikan memperoleh makanannya. menambahkan bahwa
factor-faktor yang menentukan suatu jenis ikan akan memakan suatu jenis
oeganisme adalah ukuran makanan, ketersediaan makanan, warna, rasa, tekstur
makanan dan selera ikan terhadap makanan. Selanjutnya dikatakan bahwa faktor
yang mempengaruhi jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh suatu spesies
ikan adalah umur, tempat dan waktu (Effendie, 1997).
Dalam
pengelompokan ikan berdasarkan makanannya, ada ikan sebagai pemakan plankton,
pamakan tumbuuhan, ikan buas dan ikan pemakan campuran.Berdasarkan jumlah
variasi dari makanan yang macamnya sedikit atau sempit dan ikan monophagus
yaitu ikan yang makanannya terdiri dari satu jenis saja (Effendie, 1997).
Umumnya makanan yang pertama
kali datang dari luar untuk semua ikan dalam mengawali hidupnya ialah plankton
yang bersel tunggal yang berukuran kecil.
Jika untuk pertama kali ikan itu menemukan makanan berukuran tepat dengan
mulutnya diperlirakan akan dapat meneruskan hidupnya. Tetapi apabila dalam waktu relatif singkat
ikan tidak dapat menemukan makanan yang cocok dengan ukuran mulutnya akan
menjadi kelaparan dan kehabisan tenaga yang mengakibatkan kematian. Hal inilah yang antara lain menyebabkan ikan
pada waktu masa larva mempunyai mortalitas besar. Ikan yang berhasil mendapatkan makanan sesuai
dengan ukuran mulut, setelah bertambah besar ikan itu akan merubah makanan baik
dalam ukuran dan kualitasnya (Effendie, 2002).
Kebiasaan makanan (food habits)
dan kebiasaan cara memakan (feeding habits) merupakan dua istilah yang
seringkali disalahartikan dalam penggunaannya.
Yang termasuk dalam food habits adalah kualitas dan kuantitas makanan
yang dimakan ikan, sedangkan yang termasuk dalam feeding habits adalah waktu,
tempat dan cara makanan itu didapatkan oleh ikan (Yasidi, 2009).
III. METODE PRAKTIKUM
A.
Waktu
dan Tempat
Praktikum Biologi
Perikanan ini di lakasnakan pada tanggal 21 Januari pukul 08.00 – 15.30
bertempat di Laboratorium Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Haluoleo Kendari.
B.
Alat
dan Bahan
Adapun alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum
ini, yaitu dapat dilihat pada tabel satu berikut.
Tabel 1. Alat dan Bahan yang digunakan pada Praktikum
Beserta Kegunaannya
|
No
|
Alat
/ Bahan
|
Satuan
|
Kegunaan
|
|
1
|
Alat
|
|
|
|
-
|
Baki
(Dissecting-pan)
|
-
|
Wadah
menyimpan objek
|
|
-
|
Mistar
|
cm
|
Mengukur panjang obyek yang diamati
|
|
-
|
Alat Tulis
|
-
|
Menulis hasil pengamatan
|
|
-
|
Pisau bedah
(scalpel)
|
-
|
Membedah ikan
|
|
-
|
Pinset
(forceps)
|
-
|
Menjepit Ikan
|
|
-
|
Timbangan digital
|
kg
|
Menimbang Ikan
|
|
-
|
Lap kasar dan halus
|
-
|
Membersihkan meja praktikum
|
|
-
|
Kertas label
|
-
|
Memberi label
|
|
-
|
Plastik
|
-
|
Menyimpan gonad
|
|
-
|
Tisu gulung
|
-
|
Membersihkan meja
|
|
2
|
Bahan
|
|
|
|
-
|
Ikan Barakuda
|
gr
|
Sebagai Media Pengamatan
|
C.
Prosedur
Kerja
a.
Hubungan
Panjang dan Berat
Adapun prosedur kerja
dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan pada praktikum.
2. Mengambil
satu persatu ikan yang tersedia, lalu mengukur panjangnya dengan menggunakan
mistar dengan ketelitian 1 mm atau kapiler, mulai dari ujung mulut sampai ujung
ekor terpanjang (panjang total).
3. Mengukur
bobot ikan atau berat ikan dengan menggunakan timbangan dengan ketelitian 0,01
gram.
4. Mencatat
hasil pengukuran tersebut pada lembar kerja yang telah disediakan.
5. Melakukan
analisis data hubungan panjang dan berat ikan dengan cara sebagai berikut :
a. Metode
Rousefell dan Everhart (1960) dan Lagler (1961)
b. Metode
Carlander (1968)
c. Metode
pengukuran dengan aplikassi Microsoft
Office-Excel
b. Tingkat Kematangan Gonad (TKG)
1.
Mengukur ikan segar yang telah
disiapkan. Terlebih dahulu mengukur panjang totalnya (jarak antara ujung kepala
yang terdepan dengan lengkung sirip ekor yang paling belakang) menggunakan
mistar dengan ketelitian 1 mm dan bobotnya di timbang dengan timbangan digital
berketelitian 0.01 g.
2.
Melakukan pembedahan terhadap sampel
ikan. Menggunakan gunting bedah dan menusukkan bagian yang runcing ke bagian
anus hingga terbentuk lubang kecil. Menggunting tubuh ikan kea rah rongga perut
bagian atas, menggunting harus hati-hati agar organ-organ dalam tidak rusak
karena tertusuk ataupun robek. Setelah gunting mencapai ujung terdepan dari
rongga perut bagian atas (kepala belakang), gunting diarahkan ke bagian bawah
hingga dasar perut. Kemudian membuka daging yang telah di gunting.
3.
Setelah melakukan pembedahan, maka organ
tubuh bagian dalam pada ikan akan terlihat.
4.
Menentukan tahap perkembangan gonad pada
ikan jantan dan betina dengan menggunakan buku penunjuk.
c. Indeks Kematangan Gonad (IKG)
1.
Menimbang gonad ikan yang di peroleh
pada praktikum 1 untuk memperoleh bobot gonad sebenarnya.
2.
Data panjang dan bobot ikan dipewroleh
berdasarkan praktikum 1.
3.
Menghitung besarnya indeks kematangan
gonad dan gonado indeks sesuai dengan formula yang telah ditentukan.
d. Fekunditas
1.
Menganalisis fekunditas pada ikan dengan
fekunditas sedikit dilakukan dengan menghitung langsung telur dari ikan yang
matang gonad (TKGIV-V) dan menghitung di lakukan seluruhnya dengan cara di
encerkan dengan air dan menghitung jumlah telur di bawah mikroskop.
2.
Untuk ikan-ikan yang mempunyai
fekunditas dala jumlah besar, menghitung telur dapat dilakukan secara
gravimetrik.
3.
Mengambil sebagian telur (10%) dari
bobot gonad pada bagian anterior, median, dan posterior, kemudian
menghitungnya.
4.
Fekunditas populasi yaitu produksi telur
ikan betina ang akan di hasilkan diketahui dengan persamaan
5.
Mengukur diameter telur dengan mengambil
gonad ikan betina dari TKG III – V dari tiga bagian yang berbeda yaitu
anterior, median dan posterior.
6.
Meletakkan telur berjajar pada gelas
objektif lalau mengamato dengan menggunakan mikroskop yang dilengkapi
micrometer okuler, sebelumnya mikrometer okuler di tera dengan mikrometer
objektif.
7. Hubungan
fekunditas dengan panjang total tubuh menggunakan rumus.
8. Untuk
mendapatkan ukuran ikan pertama kali matang gonad dilakukan dengan memplotkan
presentase ikan matang gonad dengan panjang totalnya. Panjang ikan minimum pada
sekurang-kurangnya 50% dari ikan yang matang gonad (TKG IV dan V) dinyatakan
sebagai ukuran ikan pertama kali matang gonad.
e. Kebiasaan Makanan Ikan
1. Menganalisis
makanan alami dilakukan dengan membedah ikan. Untuk dapat melihat alat
pencernaan mulai faring sampe anus, menggunting bagian bawah kepala hingga
terbelah dua. Dengan cara ini alat pencernaan bagian depan (faring dan
osephagus) dapat dilihat.
2. Selanjutnya
seluruh saluran pencernaanya dikeluarkan dan disimpan dalam botol sampel dan
diawetkan dengan formalin 70%.
3. Jenis-jenis
makanan yang ditemukan dalam saluran pencernaan diamati dibawah mikroskop
binokuler dan diidentifikasi berdasarkan Gosner (1971), Scahlan (1972), Yamaji
(1979), Basmi (1997), Dharma (1988), Higgins dan Thiel (1988), dan Dharma
(1992).
4. Penentuan
kebiasaan makan ikan dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti metode
jumlah, frekuensi kejadian, tumpukan dalam persen, volumetric, gravimetrik, dan
metode gabungan (Indeks relative penting dan indeks bagian terbesar).
5. Pemilihan
metode penentuan kebiasaan makanan ditentukan oleh jenis ikan (herbivora,
karnivora dan omnivora).
a.
Metode jumlah
-
Semua organisme makanan serta
benda-benda lain yang terdapat di dalam alat pencernaan dihitung satu per satu.
-
Satu macam organisme makanan kemudian
dibandingkan dengan organisme makanan
lainnya.
-
Membuat histrogram hubungan antara jenis
makanan (X) dan jumlah makana (Y).
b.
Metode frekuensi kejadian
-
Tiap-tiap isi alat pencernaan makanan
dicatat organisme yang menjadi makanan ikan, demikian juga dengan alat
pencernaan yang kosong.
-
Setiap organisme makanan yang terdapat
dalam sejumlah saluran pencernaan yang berisi dinyatakan dalam persen dari
seluruh alat pencernaan yang diteliti, namun tidak meliputi saluran pencernaan
yang kosong.
-
Membuat histrogram hubungan antara jenis
makana (X) dan frekuensi kejadian satu jenis makanan (Y).
c.
Metode volumetrik
-
Mengukur volume makanan yang terdapat
dalam saluran pencernaan dengan teknik pemindahan air.
-
Mengeringkan makanan di atas kertas
saring selama 5 menit.
-
Memisahkan masing-masing organisme
makanan yang dapat dipisahkan dan volumenya diukur dalam keadaan kering udara.
-
Jika terdapat makanan yang tidak
diketahui jenisnya, maka kemudian menggolongkannya ke dalam material yang tidak
teridentrifikasi (MTT).
-
Seluruh volume makanan harus bernilai
100%.
D.
Analisis
Data
Data-data
yang telah diperoleh dalam praktikum ini selanjutnya dianalisis dengan
pedekatan-pendekatan matematis dan pendekatan statistik.
1. Hubungan Panjang berat
Menurut Aslan (1996) bahwa formulasi umum yang dapat
digunakan untuk menentukan hubungan
panjang berat adalah:
W
= aL b
Dimana
: W = Berat ikan , L = Panjang ikan dan
a = Konstanta
Persamaan tersebut dapat ditransformasikan ke dalam
bentuk logaritma dan akan diperoleh persamaan linear sebagai berikut:
Log
W = Log a + b Log L
Tehnik
perhitungan panjang berat dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu
a.
Secara
Langsung
Untuk melakukan tekhnik perhitungan secara langsung
terlebih dahulu dibuat suatu daftar (tabel) yang tersususn dari harga-harga
L,W, Log L, Log W, Log L x Log W, (Log L)2, (Log W)2.
Selanjutnya jumlah-jumlah yang diperoleh dimasukan ke dalam persamaan sebagai
berikut:
b = N(LogL x Log W) – (Log L) (Log W)
N(Log L)2- (Log L)2
a
= Y – bX
Dimana
: Y = Log W
N
X = Log L
N
r
= N(Log L x Log W) – (Log L) (Log W)
√N(Log L)2 – (Log L)2x
(N(Log W)2 – (LogW)2
Nilai-nilai a dan b yang telah diperoleh dimasukkan
ke dalam bentuk persamaan linear seperti yang dicantumkan pada halaman
sebelumnya.
b.
Secara
Tidak Langsung
Dalam tekhnik perhitungan dengan cara ini, mula-mula
dari masing-masing logaritma harga terkecil dan terbesar setiap panjang dan
berat. Dari perbedaan harga logaritma ini ditentukan banyaknya kelas yang
dikehendaki dan selanjutnya harga beda log dibagi dengan banyaknya kelas yang
dikehendaki. Untuk menyusun kelas-kelas ayang dikehendaki maka terlebih dahulu
harus dicari tengah kelas dari kelas pertama. Tengah kelas pertama dengan
setengah dari beda log tengah kelas. Untuk tengah kelas kedua, harganya
merupakan pertambahan antara tengah kelas pertama dengan beda logaritma
tengah-tengah kelas, demikian pula halnya dengan tengah kelas selanjutnya dan
harga terendah dari tiap-tiap kelasnya.
Setelah nilai-nilai yang terdapat pada tabel yang
dimaksud maka dihitung berdasarkan analisis “Weighted Regression” dengan asumsi
bahwa varians kelas-kelas tersebut sama besar, yaitu:
X
= ΣnX
N
Y
= ΣnY
N
ΣX2
= ΣnX2 – (ΣnX)2
N
ΣY2
= ΣnY2 – (ΣnY)2
N
ΣXY2
= ΣnXY – (ΣnX)2 (ΣnY)2
N
Uji T (Walpole,1982).
Σ d2xy = ΣY2 = ΣnY2 – (ΣXY)2
ΣX2
S2
yx = Σ d2 xy
N-2
S2
b = S2 yx
ΣX2
Sb
= √ S2 b
Thit
= 3 - b
Sb
Nilai
Koefisien korelasi panjang dan berat adalah :
r = Σ XY
√ (ΣX2. ΣY2)
2. Analisis Sidik Ragam
Analisis varians
pada persamaan regresi dicari menurut cara Snedecor and Cohran (1967) sedangkan
analisis sidik cocok data terhadap model dilakukan seperti cara Drafer and
Smith (1963).
a. Analisis Varians.
Perhitungan
yang diperlukan untuk analisis varians adalah:
Jumlah Kuadrat Total
(JKT) = Σ nY
Jumlah Kuadrat
Nilai Tengah (JKNT) = (Σ nY)2
N
Jumlah Kuadrat
Regresi (JKR) = b Σ XY
Jumlah Kuadrat Sisa
(JKS) = JKT – JKNT – JKR
Kuadrat Tengah
Nilai Tengah KTNT) = JKNT
db NT
Kuadrat Tengah
Regresi (KTR) = JKR
db R
Kuadrat Tengah
Sisa (KTS) = JKS
db S
Fhit
= KTR
KTS
b.
Analisis Cocok Data
Perhitungan
yang diperlukan untuk analisis cocok data adalah sebagai berikut:
X Y Y2
N Y Y2
n = Y2- ( Y )2
Σn
JKAM = n1 + n2 + n3 ………….+ nn
JKSTM
= JKSTM
db STM
KTAM
= JKAM
db AM
Fhit
= KTSTM
KTAM
Keterangan :
N = Jumlah x yang sama nilainya
(banyaknya x yang sama nilainya)
JKAM = Jumlah Kuadrat Acak Murni
JKSTM = Jumlah Kuadrat Simpangan terhadap Model
KTSTM = Kuadrat Tengah Simpangan Terhadap Model
KTAM = Kuadrat Tengah Acak Murni
db
STM = Derajat Bebas Simpangan
Terhadap Model
db
AM = Derajat Bebas Acak Murni
3. TKG dan IKG
Persamaan
yang diperlukan untuk menghitung Indeks Kematangan Gonad yaitu :
IKG =
Berat Gonad (Wg) x 100 %
Berat Tubuh (Wb)
Keterangan
: IKG = Indeks Kematangan Gonad (%)
Wg =
Berat Gonad (gr)
Wb = Berat tubuh (gr)
4.
Studi Kebiasaan Makan
Untuk mengetahui
studi kebiasaan makan ikan dapat digunakanan metode-metode berikut ini :
a. Metode Jumlah
Berdasarkan
metode ini, maka persentase jumlah setiap organisme makanan adalah sebagai
berikut:
Jumlah semua organisme pada
lambung ikan
b. Metode Frekuensi Kejadian
Berdasarkan
metode ini, maka persentase Frekuensi kejadian setiap organisme makanan adalah
sebagai berikut:
Misal
Organisme A = Jumlah frekuensi
kejadian pada lambung A
c. Metode Volumerik
Berdasarkan
metode ini, maka persentase setiap organisme makanan adalah sebagai berikut:
Jumlah semua volume rata-rata
d.
Indeks Relatif Penting
Penggabungan
dari metode jumlah, volumerik dan frekuensi kejadian menghasilkan peramaan
sebagai berikut :
IRP
= (N + V) F
Dimana : IRP = Indeks Relatif Penting (%)
N = Persentase jumlah satu macam makanan
V =
Persentase volume satu macam makanan
F = Frekuensi kejadian satu macam makanan
e. Indeks Bagian Terbesar
Indeks bagian terbesar
merupakan penggabungan dari metode frekuensi kejadian dengan metode volumerik
yang menghasilkan persamaan :
IBT = Vi x Oi x 100 %
ΣViOi
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Adapun hasil pengamatan dari
praktikum ini meliputi hubungan panjang berat ikan, Fekunditas, Tahap Kematangan Gonat
( TKG ), Indeks Kematangan Gonat ( IKG ), dan Kebiasaan Makan. Hasil pengamatan
dapat dilihat pada tabel berikut ini.
a.
Hasil Pengamatan Hubungan Panjang Berat.
Berikut ini adalah hasil pengamatan
hubungan panjang berat ikan dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel
1. Hubungan Panjang Berat Ikan Barakuda (Sphyraena
barracuda)
|
No.
|
Jenis Kelamin
|
Jumlah
|
Nilai a
|
Nilai b
|
Ket
|
|
1
|
Jantan
|
56
|
-0.00040603
|
1,217814
|
|
|
2
|
Betina
|
44
|
-0.00114745532738463
|
1.29887475197202
|
b.
Hasil Pengamatan Fekunditas Ikan
Berikut ini adalah hasil pengamatan
fekunditas ikan dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel
2. Fekunditas Ikan Barakuda (Sphyraena
barracuda)
|
No.
|
L
|
W
|
CB
|
|
1
|
22
|
1.85
|
18%
|
|
2
|
23
|
2.36
|
8%
|
|
3
|
23
|
0.38
|
11%
|
|
4
|
23
|
2.6
|
6%
|
|
5
|
22
|
0.57
|
2%
|
|
6
|
26
|
3.1
|
11%
|
|
7
|
45
|
2.52
|
3%
|
|
8
|
33
|
0.35
|
3%
|
|
9
|
74
|
6.45
|
7%
|
|
10
|
33
|
0.71
|
7%
|
|
11
|
21
|
1.17
|
2%
|
|
12
|
23,7
|
1.76
|
3%
|
|
13
|
24,2
|
3.04
|
4%
|
|
14
|
23,1
|
2.36
|
2%
|
|
15
|
22,7
|
1.78
|
2%
|
|
16
|
25
|
3.26
|
3%
|
|
17
|
23,2
|
2.31
|
4%
|
|
18
|
24,5
|
2.61
|
3%
|
|
19
|
25,2
|
3.16
|
2%
|
|
jumlah
|
370
|
42.34
|
100%
|
c. Hasil Pengamatan TKG
Berikut
ini adalah hasil pengamatan Tahap Kematangan Gonat (TKG) dapat dilihat pada
tabel 3.
Tabel 3. Hasil
Pengamatan TKG Ikan Barakuda (Sphyraena
barracuda)
|
No.
|
Jenis kelamin
|
jumlah
|
TKG
|
|||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
|||
|
1.
|
Jantan
|
56
|
21
|
28
|
6
|
1
|
|
2.
|
Betina
|
44
|
2
|
11
|
12
|
19
|
d. Hasil
Pengamatan IKG
Berikut
ini adalah hasil Pengamatan Indeks Kematangan Gonat (IKG) dapat dilihat pada
tabel 4.
Tabel 4. Hasil
Pengamatan IKG Ikan Barakuda (Sphyraena
barracuda)
|
No.
|
Jenis kelamin
|
Æ© IKG
|
|
1.
|
Jantan
|
0,601914
|
|
2.
|
Betina
|
1,282808
|
e.
Hasil
Pengamatan Kebiasaan Makan
Berikut
ini adalah hasil pengamatan kebiasaan makan ikan dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Hasil
Pengamatan IKG Ikan Barakuda (Sphyraena
barracuda)
|
No.
|
Berat (g)
|
Jenis Makanan
|
|
|
Teri
|
MTT
|
||
|
1
|
0,89
|
0
|
100
|
|
2
|
3,62
|
75
|
25
|
|
3
|
1,20
|
25
|
75
|
|
4
|
3,44
|
100
|
0
|
|
5
|
1,59
|
25
|
75
|
|
6
|
3,56
|
50
|
50
|
|
7
|
3,89
|
75
|
25
|
|
8
|
1,12
|
75
|
25
|
|
9
|
0,65
|
0
|
100
|
|
10
|
0,70
|
0
|
100
|
|
11
|
1,76
|
100
|
0
|
|
12
|
0,59
|
75
|
25
|
|
13
|
2,22
|
25
|
75
|
|
14
|
0,60
|
75
|
25
|
|
15
|
1,69
|
30
|
70
|
|
16
|
1,44
|
40
|
60
|
|
17
|
1,89
|
65
|
35
|
|
18
|
3,21
|
15
|
85
|
|
19
|
0,51
|
0
|
100
|
|
20
|
0,96
|
90
|
10
|
|
Jumlah
|
940
|
1060
|
|
B. Pembahasan
a. Hubungan Panjang Berat Ikan
Panjang
berat merupakan pertambahan panjang dan berat dalam suatu waktu tertentu.
Pertumbuhan dalam individu adalah pertumbuhan jaringan akibat pembelahan sel
secara mitosis. Hal ini terjadi bila ada kelebihan input energi dan asam amino
(protein) dari makanan, sebab bahan dari makanan akan digunakan oleh tubuh
untuk melakukan metabolisme dasar, pergerakan, reproduksi, produksi organ
seksual, perawatan bagian-bagian tubuh dan sebagainya (Effendie, 2002).
Pada
praktikum ini, objek yang diamati adalah ikan barakuda (Sphyraena barracuda). Hubungan
panjang dan berat ikan dianalisis untuk menduga pola pertumbuhannya. Berdasarkan
hasil analisis regresi hubungan panjang dan berat ikan
barakuda (Sphyraena barracuda) menunjukkan pada ikan jantan nilai koefisien b = 1,217814 yang berarti
menunjukkan pola pertumbuhannya allometrik. Hal ini membuktikan bahwa pola
pertumbuhan panjang ikan jantan lebih cepat dibandikan pola pertumbuhan berat
ikan. Hasil pengamatan hubungan panjang berat ikan jantan dapat dilihat pada
gambar 1.

Gambar 1. Hubungan Panjang Berat Ikan Jantan Pada Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda).
Sementara pada ikan betina menunjukkan pola
pertumbuhan yang allometrik yang berarti pola pertumbuhan panjang ikan lebih
cepat dibandingkan pola pertumbuhan berat ikan. Hal ini dilihat pada nilai
koefisien b ikan betina = 1.29887475197202. Adapun hasil pengamatan hubungan panjang berat ikan
betina dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Hubungan Panjang Berat Ikan betina pada ikan Barakuda (Sphyraena barracuda).
Kondisi ini diduga disebabkan oleh berbagai faktor lingkungan yang berbeda tiap lokasi yang dapat
memengaruhi pertumbuhan seperti makanan yang terbatas di perairan akan
menyebabkan pertumbuhan berat ikan semakin melambat.
b. Fekunditas
Fekunditas
adalah jumah telur yang akan dikeluarkan pada saat melakukan pemijahan.
Fekunditas yang diperoleh dapat dibandingkan dengan ukuran dari setiap individu
ikan sehingga akan didapatkan informasi tentang jumlah anak ikan yang
dihasilkan pada ukuran yang berbeda-beda.
Pada praktikum ini jumlah ikan Barakuda (Sphyraena
barracuda) yang
memiliki fekunditas ditemukan berjumlah 19 ekor dengan TKG tingkat IV. Ikan
jantan berjumlah 1 ekor dan ikan betina berjumlah 18 ekor. Hasil analisis
hubungan fekunditas adalah nilai L = 370
dan W = 42.34. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa hubungan fekunditas dengan
panjang total adalah rendah, sedangkan hubungan fekunditas dengan berat tubuh
adalah sedang.
c. Tahap
Kematangan Gonat (TKG)
Tingkat kematangan gonad diperlukan
untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan melakukan reproduksi dan yang
tidak serta mengetahui bilamana ikan itu memijah atau sudah selesai memijah
(Sudirman dan Karim, 2008). Sebaran diameter telur pada tiap tingkatan
kematangan gonad akan mencerminkan pola pemijahan ikan tersebut.
Dari
hasil pengamatan menunjukan bahwa ikan
Barakuda (Sphyraena
barracuda) jantan ditemukan mulai TKG I sampai TKG IV berjumlah 56 ekor dan ikan betina ditemukan memiliki TKG I dan
IV berjumlah 44 ekor.
d. Indeks Kematangan Gonat
perubahan IKG berat kaitannya dengan tahap
perkembangan Telur atau TKG. Nilai IKG ikan Barakuda (Sphyraena barracuda) dihitung dengan perbandingan antara berat gonat
dengan berat tubuh ikan yang dinyatakan dalam persen.
Pada ikan jantan dan betina selama penelitian
relatif berbeda. Nilai IKG pada ikan jantan adalah 0,601914. Sementara pada ikan
betina nilai IKG yang ditemukan adalah 1,282808. Nilai IKG ikan
dinyatakan dalam persen yang berarti ikan jantan sebesar 0.6 % dan ikan betina sebesar
1.2%.
Peningkatan
nilai indeks kematangan gonad ikan barakuda umumnya sejalan dengan perkembangan
gonad. IKG akan semakin meningkat dan mencapai kisaran maksimum saat akan
terjadi pemijahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendie (2002) bahwa sejalan
dengan perkembangan gonad, IKG akan semakin bertambah besar dan nilai IKG akan
mencapai batas kisaran maksimum saat akan terjadi pemijahan. Perbedaan indeks
kematangan gonad ikan jantan dan betina disebabkan oleh tingginya indeks
kematangan gonad ikan betina dibandingkan ikan jantan pada tingkat kematangan
gonad yang sama. Asriyana dan La Sara (2013) menyatakan bahwa indeks kematangan
gonad ikan meningkat sejalan dengan meningkatnya tingkat kematangan gonad. Hal
ini disebabkan oleh pertambahan bobot ovarium selalu lebih besar dari
pertambahan bobot testes. Peningkatan bobot ovarium berhubungan dengan proses
vitellogenesis dalam perkembangan gonad, sedangkan peningkatan bobot testes
berhubungan dengan proses spermatogenesis dan peningkatan volume semen dalam
tubulus seminiferi. Proses tersebut sangan bergantung pada ketersediaan makanan
sebagai sumber energi untuk perkembangan
somatik dan reproduksinya.
e. Kebiasaan
Makan Ikan
Dalam menentukan kebiasaan makan ikan dikenal
beberapa aspek diantaranya adalah tempat atau lokasi makan waktu makan cara
makan ikan dan jenis makan kegemaran ikan. Kedua kebiasaan itu tidak sama
antara jenis ikan yang satu dengan Jenis ikan yang lainnya.
Berdasarkan
hasil pengamatan volume makanan ikan barakuda diketahui bahwa jenis makanan
ikan teri lebih besar daripada yang tidak diketahui (MTT). Hasil perhitungan
kebiasaan makan ikan barakuda adalah ikan teri sebesar 53% dan MTT 47%. Berdasarkan hasil pengamatan bahwa ikan
barakuda memiliki sifat karnivora dimana pemakan daging. Besarnya populasi ikan
dalam suatu perairan antara lain ditentukan oleh makanan yang tersedia. Dari
makanan ini ada beberapa faktor yang berhubungan dengan populasi tersebut yaitu
jumlah dan kuantitas makanan yang tersedia. Dari hasil pengamatan kebiasaan
makan ikan dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Kebiasaan makan ikan barakuda
(Sphyraena barracuda)
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan
hasil pengamatan dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Hubungan
panjang berat ikan barakuda (Sphyraena
barracuda ) tidak seimbang sehingga pertumbuhannya dikatakan pertumbuhan
allometrik, dimana nilai b lebih kecil dari 3.
2. Hubungan
panjang dan fekunditas pada ikan barakuda (Sphyraena
barracuda) dinyatakan dalam persen. Fekunditas ikan tersebut merupakan hasil
pengamatan beberapa jenis ikan.
3.
TKG masing-masing ikan yang diperoleh yaitu
TKG IV dimana sudah terlihat gonad pada ikan tersebut.
4.
IKG ikan barakuda (Sphyraena barracuda )yaitu1,822 %.
5. Volume
makanan ikan barakuda (Sphyraena
barracuda ) dinyatakan dalam persen.
B.
Saran
Sebaiknya
praktikum selain dilaksanakan di Laboratorium juga dapat dilakukan langsung di
lapangan sehingga kita dapat mengetahui pengetahuan tentang hubungan panjang berat, fekunditas, tingkat kematangan
gonad, indeks kematangan gonad serta kebiasaan makanan ikan dapat diketahui
lebih detail.
Alamsyah,
R, Musbir., Amir, F. 2014. Size
Structure and Decent Size Capture of Skipjack Tuna (Katsuwonus pelamis) in Bone Bay Waters. Jurnal Sains dan Teknologi.
FPIK: UNHAS. 14. 1: 80-95.
Al-Zibdah,
M., dan Odat, N. (2007). Fishery
Status, Growth, Reproduction Biology and Feeding Habit of Two Scombrid Fish from the
Gulf of Aqaba, Red Sea. Lebanese Science Journal, 8 .2 :39-47
Andrade, H. A. dan Campos, R. O. (2002) Allometry Coefficient Variations of the Length-weight Relationship of
Skipjack Tuna (Katsuwonus pelamis) Caught in the Southwest South Atlantic. Fisheries Research,
55:307-312.
Anggarainy,
L. 1991. Estimasi Potensi Cakalang Berdasarkan Parameter Biologi di Perairan
Kepulauan Bacan Kabupaten Maluku Utara. Makassar 45 hal.
Asriyana.,
dan La Sara. 2013 Beberapa
Aspek Biologi Reproduksi Ikan Siro (Sardinella
longiceps Val.) di Perairan Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara. Jurnal
Iktiologi Indonesia. 13 (1):1-11.
Baso,
H., 2013. Kajian Biologi Populasi
Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Luwu Teluk Bone. Tesis. PPs Unhas. Makassar. 123
hal.
Ditjen
Perikanan. 1998. Buku Pedoman Pengenalan Sumberdaya Perikanan Laut. Direktorat
Jendral Perikana Departemen Pertanian. Jakarta.
Djuhanda,
T. 1981. Dunia Ikan. Armico Press.
Bandung. 190 hal.
Effendie,
M. I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama Yogyakarta. 163
English,
S.,C. Wilkinson and Baker V. 1994. (Survey Manual For Tropical Marine
Resources).ASEAN-Australian Marine Science Project : Living Coastral Resources
. Australian Institute of Marine Science. Townsville.
Fafioye,
O. and O.A. Olaujo. 2005. Length-Weight Relationships of Five Fish Species in
Efe Logon. Nigeria, African Journal of Biotechnologi : 4. (7). 749-751.
Fujaya,
Y., 1999. Fisiologi ikan. Rineka Cipta. Jakarta.
Gafa,
B., T. Sufendrata dan J.C.B. Uktolseja. 1987. Penandaan Ikan Cakalang dan Madidihang
di Sekitar Rumpon Teluk Tomini - Sulawesi Utara. Jurnal Penelitian Perikanan
Laut. Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta. No. 43: 67-74.
Gigenetika,
S. 2012. Optimal Pengembangan Perikanan Cakalang di Kabupaten Lombok Timur Provinsi
Nusa Tenggara Barat. Tesis. Bogor. Pascasarjana IPB.
Grande,
M., H. Murua, I. Zudaire, and M. Korta. (2010). Spawning Activity and Batch
Fecundity of Skipjack, Katsuwonus pelamis,
in The Western Indian Ocean. IOTC-2010- WPTT-47.
Hasan,
M. Iqbal. 2001. Pokok-Pokok Materi Statistik I (Statistik Deskriptif),
Bumi Aksara. Jakarta.
Itano,D.G.,
2011. The Reproductive Biology of Yellowfin Tuna (Thunnus
Albacore) In Hawaian Waters
And Teg Western Tropical Pacific
Ocean. Project Summary, Joint Institute for Marine and
Atmospheric Research and NOAA, 75 p
Jamal,
M., Sondita, F.A., Haluan, J., dan Wiryawan, B. (2011). Pemanfaatan Data Biologi Ikan Cakalang (Katsuwonus
pelamis) dalam Rangka Pengelolaan Perikanan Beranggung Jawab di Perairan Teluk Bone. Jurnal Natur Indonesia.
14. (1): 107-113.
Kalayci, F., Samsun, N., Bilgin, S. dan Samsun, O. 2007.
Length-weight Relationship of 10 Caught by Bottom Trawl and Midwater Trawl
From The Middle Black Sea, Turkey. Tourkish Journal of Fisheries
and Aquatic Sciences 7: 33-36.
Kharat
SS, Y. K. Khillare, dan N. Dahanukar. 2008. Allometric scalling in Growth and
Reproduction of a Freshwater Loach Nemacheilus mooreh (Sykes 1839).
Electronic Journal of Ichthyology. 4(1): 8-17
Koya, K.P.S., Joshi, K.K., Abdussamad, E.M., Rohit, P., Sivadas,
M., Kuriakose, S., Ghosh, H., Koya, M., Dhodika, H.K., Prakasan, D., Koya,
V.A.K., and Sebastine, M. (2012). Fishery,
Biology, and Stock Structure of Skipjack Tuna, Katsuwonus pelamis
(Linnaeus, 1758) Exploited From Indian
Waters. Indian Journal Fisheries. 59:39-47.
King, M. 1995.
Fisheries Biology, Assessment and Management. Fishing News Books. A Division of
Blackwell Science Ltd. London.
La
Sara. 2001. Ecology and Fisheriesn of Mud Crab (Scylla serrata) in Lawele Bay, Southheast Sulawesi, Indonesia.
Pd.D. Dissertation College of Fisheries and Ocean Science, University of The
Philippines, Miagao, Iloilo. Philippines.
Lelono
TD. 2007. Dinamika Populasi dan Biologi Ikan Lemuru (Sardinella lemuru)
yang Tertangkap dengan Purse Seine di Pelabuhan Perikanan Nusantara Parigi
Trenggalek, p. 1-11. In: Isnansetyo A, Murwantoko, Yusuf IBL, Djumanto,
Saksono H, Dewi IP, Setyobudi E, Soeparno, Prabasunu N, Budhiyanti SA, Ekantari
N, Ptiyono SB (editor). Prosiding: Seminar Nasional Tahunan IV Hasil Penelitian
Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2007. Jurusan Perikanan dan Kelautan. Fakultas
Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Mallawa A, F.
Amir, dan M. Zainuddin. 2014. Keragaan Biologi Populasi Ikan Cakalang (Katsuwonus
Pelamis) yang Tertangkap Dengan Purse
Seine Pada Musim Timur Di
Perairan Laut Flores. Jurnal IPTEKS PSP. 1 (2) : 129-145.
Mallawa,
A., Musbir, F. Amir, dan A. A. Marimba, 2012. Analisis Struktur Ukuran Ikan
Cakalang (Katsuwonus pelamis) Menurut
Musim, Daerah dan Teknologi Penangkapan Ikan di Perairan Luwu Teluk Bone,
Sulawesi Selatan. J. Sains dan Teknologi Balik Diwa. Vol. 3 No. 2 :29 – 38.